Detak Media — Jaringan Bitcoin (BTC) tengah menghadapi penurunan tingkat daya komputasi atau hash rate terpanjang sepanjang sejarah. Data terbaru dari Glassnode menunjukkan bahwa hash rate telah merosot hingga 19% sejak November 2025, turun dari 1.108 EH/s menjadi 898 EH/s per Agustus 2026. Penurunan beruntun selama sembilan bulan ini bertepatan dengan perpindahan modal terbesar yang pernah dilakukan oleh para penambang.
Sejumlah perusahaan tambang kripto publik kini mengalihkan kapasitas energi mereka ke sektor kecerdasan buatan (AI) dengan total nilai kontrak yang dilaporkan mencapai lebih dari US$ 70 miliar. Dalam konteks Bitcoin, EH/s (Exahashes per second) adalah satuan untuk mengukur kecepatan komputasi atau hash rate yang digunakan dalam proses penambangan. Semakin tinggi nilai EH/s, semakin sulit bagi pihak luar untuk menyerang jaringan Bitcoin karena membutuhkan daya komputasi yang sangat besar.
Secara umum, hash rate yang tinggi menandakan lebih banyak mesin penambang yang aktif dan memperkuat keamanan jaringan. Penting untuk dicatat bahwa EH/s mengukur kecepatan komputasi, bukan jumlah Bitcoin yang ditambang. Pendapatan penambang juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti tingkat kesulitan penambangan (difficulty), biaya listrik, efisiensi perangkat, dan hadiah blok.
Penurunan Hash Rate Terpanjang dalam Sejarah Bitcoin
Dalam sejarah modern jaringan Bitcoin, hanya pernah terjadi dua kali penurunan kapasitas hash rate yang signifikan. Keduanya berhasil pulih dalam waktu yang relatif singkat. Periode penurunan tersebut meliputi Mei–Juli 2021 dengan penurunan 42% selama sekitar 10 minggu, yang dipicu oleh larangan penambangan di China. Kemudian, April–Juli 2024 mengalami penurunan 8% selama tiga bulan pasca-halving, yang disebabkan oleh pembersihan rig.
Namun, penurunan yang terjadi antara November 2025 hingga Agustus 2026 ini menunjukkan angka yang berbeda. Dengan penurunan sekitar 19% selama kurang lebih sembilan bulan yang masih berlangsung, penurunan ini didorong oleh tekanan ekonomi atau ‘squeeze margin’ dan peralihan besar-besaran ke sektor AI. Jaringan Bitcoin telah kehilangan daya sekitar 210 EH/s, angka ini bahkan melebihi total hash rate jaringan pada awal tahun 2021.
Berbeda dengan krisis pada 2021 yang disebabkan oleh larangan dari pemerintah China dan berhasil pulih setelah relokasi perangkat, penurunan kali ini bersifat lebih struktural. Tekanan ekonomi ini mulai memakan korban, salah satunya adalah Poolin, yang pernah menjadi salah satu mining pool terbesar di dunia, telah mengajukan kepailitan (Chapter 11) pada akhir Juli 2026.
Tingkat Kesulitan Tambang Berada di Zona Negatif
Laporan dari Hashrate Index milik Luxor menunjukkan bahwa tingkat kesulitan penambangan Bitcoin saat ini berada 1,1% di bawah posisinya satu tahun lalu. Ini menandai pembacaan tahunan (year-over-year) negatif pertama sejak Agustus 2021. Sifat penurunan kali ini diperkirakan jauh lebih permanen.
Para penambang mulai menandatangani kontrak sewa hosting AI dengan durasi 12 hingga 20 tahun, menggunakan infrastruktur daya yang sebelumnya diperuntukkan bagi mesin penambang ASIC. Di sisi lain, tingkat difficulty tambang tercatat telah menyusut 19,9% dari puncaknya pada November 2025, turun dari sekitar 156 triliun menjadi 126,23 triliun. Akun analisis BitcoinArchive mencatat, biaya produksi Bitcoin saat ini diperkirakan berada di kisaran US$ 54.939, dengan asumsi tarif listrik US$ 0,06 per kWh. Penyesuaian tingkat kesulitan yang menurun ini secara bertahap membantu menekan biaya produksi bagi penambang yang masih bertahan.
Dampak Eksodus Penambang bagi Harga BTC
Harga BTC saat ini bergerak di kisaran US$ 64.078, masih terkoreksi sekitar 49% dari level tertingginya pada Oktober 2025. Penurunan harga inilah yang menjadi pemicu awal eksodus para penambang. Hashprice, atau pendapatan penambang, kini bertahan di level rendah US$ 30–32 per petahash per hari, yang berada di bawah titik impas (breakeven) bagi perangkat penambang lama. Diperkirakan sekitar 15%–20% mesin tambang beroperasi dalam kondisi merugi.
Untuk membiayai transisi bisnis, para penambang publik dilaporkan telah menjual lebih dari 32.000 BTC pada kuartal pertama. Pendapatan dari fasilitas hosting AI dilaporkan mencapai 3 hingga 25 kali lipat lebih besar per megawatt dibandingkan hasil menambang Bitcoin. Beberapa raksasa tambang telah mengamankan kesepakatan bernilai fantastis, seperti Hut 8 dengan kontrak AI senilai US$ 26,6 miliar, Core Scientific yang menyewakan daya 1,1 GW kepada CoreWeave, TeraWulf dengan kontrak 20 tahun senilai USD 19 miliar dengan Anthropic, serta IREN & Cipher Mining yang menjalin kerja sama dengan Microsoft (US$ 9,7 miliar) dan AWS (US$ 5,5 miliar).
CEO Coinbase Brian Armstrong menilai pergeseran energi ini tidak akan merusak harga BTC dalam jangka panjang. Namun, Head of Research Bitwise Europe André Dragosch mengingatkan, para penambang bisa saja menyesali keputusan ini jika profitabilitas penambangan Bitcoin kembali pulih di masa depan. Sinyal utama yang perlu dicermati pasar adalah grafik difficulty. Jika angka YoY tetap negatif hingga musim gugur, jaringan Bitcoin akan resmi mengonfirmasi penurunan anggaran keamanan (security budget) secara berkelanjutan untuk pertama kalinya.
Hash rate dan difficulty merupakan indikator utama dalam mengukur keamanan serta kesehatan jaringan Bitcoin. Hash rate mencerminkan total daya komputasi yang digunakan para penambang untuk memproses transaksi dan mengamankan blok. Sementara itu, difficulty menyesuaikan secara otomatis setiap dua minggu untuk memastikan blok baru ditemukan rata-rata setiap 10 menit. Sejak peristiwa halving dan lonjakan adopsi AI global, industri penambangan Bitcoin mengalami perubahan lanskap bisnis yang masif. Penurunan harga aset kripto dari puncaknya membuat marjin keuntungan menambang menyusut tajam. Di saat yang sama, pusat data AI membutuhkan kapasitas daya listrik berskala besar dalam waktu cepat, mendorong para perusahaan penambang untuk mengalihkan fasilitas infrastruktur energi mereka menjadi hosting AI demi mendapatkan arus kas yang lebih stabil dan menguntungkan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.