Detak Media — PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) berhasil mempertahankan posisi sebagai pemimpin industri hasil tembakau Indonesia pada semester I-2026. Meskipun pasar semakin menantang, perseroan mencatat penjualan bersih sebesar Rp 56,5 triliun, laba bersih Rp 4,2 triliun, dan menguasai pangsa pasar sebesar 29,6%.
Volume penjualan perseroan mengalami penurunan 1,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh pergeseran konsumsi masyarakat ke produk dengan harga lebih rendah atau downtrading, serta masih adanya peredaran rokok ilegal.
Presiden Direktur Sampoerna Ivan Cahyadi menyatakan, dampak terbesar penurunan penjualan terjadi pada segmen sigaret kretek tangan (SKT) dengan angka 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Dampak terbesar terjadi di segmen sigaret kretek tangan (SKT) dengan penurunan penjualan sebesar 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Ivan Cahyadi, Senin (3/8/2026).
Sampoerna menilai segmen SKT memiliki arti strategis bagi perekonomian nasional. Karakteristiknya yang padat karya serta keterkaitannya dengan aktivitas ekonomi di berbagai daerah menjadikannya pencipta puluhan ribu lapangan kerja, mayoritas untuk perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.
Berdasarkan Studi Universitas Airlangga tahun 2022, segmen SKT memiliki dampak ekonomi berganda atau economic multiplier effect sebesar 3,8 kali lipat. Ini berarti, setiap Rp1.000 aktivitas ekonomi yang dihasilkan pabrik SKT berpotensi menciptakan sekitar Rp3.800 perputaran ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Ivan Cahyadi menegaskan komitmen Sampoerna terhadap segmen SKT. “SKT telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Sampoerna selama lebih dari satu abad, dan terus menjadi salah satu pilar strategis perseroan. Kami akan terus memperkuat segmen ini sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan usaha sekaligus menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan,” katanya.
Lebih lanjut, Sampoerna menciptakan sekitar 90 ribu lapangan kerja dan mengembangkan rantai nilai domestik. Hal ini termasuk kemitraan dengan 22.500 petani tembakau dan cengkih melalui mitra pemasok dalam kegiatan usahanya.
Perusahaan juga mengapresiasi keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai hasil tembakau. Ivan Cahyadi menjelaskan, kebijakan ini, bersama dengan upaya pemberantasan rokok ilegal, menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi industri legal. Hal ini memungkinkan industri legal untuk terus memperkuat ekosistem ekonomi nasional, berkontribusi pada penerimaan negara, dan penciptaan lapangan kerja.
Ke depan, Sampoerna berkomitmen untuk terus menciptakan nilai jangka panjang melalui inovasi yang berkelanjutan, pengembangan sumber daya manusia, dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui ketiga pilar tersebut, perseroan berupaya memperkuat daya saing usaha, mendorong penciptaan peluang ekonomi, serta menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan dan masyarakat luas.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.