Detak Media — Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis (23/7/2026), ditutup turun 0,99% ke level Rp 2.990. Saham emiten bank besar ini dilaporkan kembali cenderung dilepas oleh investor asing.
Dalam perdagangan tersebut, sebanyak 217,69 juta saham BBRI diperdagangkan dengan frekuensi 42.022 kali, menghasilkan nilai transaksi mencapai Rp 659,59 miliar. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp 98,47 miliar pada saham berkode BBRI tersebut.
Kondisi ini melanjutkan tren pelemahan sehari sebelumnya, di mana pada Rabu (22/7/2026), saham emiten bank BUMN ini juga minus 1,63% dengan net sell asing sebesar Rp 141,07 miliar. Tren net sell asing ini berbanding terbalik dengan periode tiga hari bursa sebelumnya, yaitu 17-21 Juli, saat saham Bank Rakyat Indonesia secara konsisten mencatat net buy dari investor asing.
BBRI Masuk Watchlist MNC Sekuritas
Meskipun demikian, MNC Sekuritas memutuskan untuk memasukkan saham BBRI ke dalam daftar pantauan atau watchlist saham pilihan untuk perdagangan Jumat (24/7/2026). Broker efek ini mencatat bahwa pergerakan saham BBRI yang terkoreksi 0,99% ke 2.990 didominasi oleh tekanan jual, namun pergerakannya masih mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan 60 hari (MA60).
MNC Sekuritas memperkirakan saham BBRI masih berpotensi mengalami penurunan lebih lanjut ke kisaran Rp 2.910-2.950. Oleh karena itu, mereka merekomendasikan strategi buy on weakness atau membeli saat terjadi pelemahan di area tersebut. Target harga pertama yang ditetapkan adalah Rp 3.120, dengan target harga kedua di Rp 3.180. Adapun level stoploss disarankan apabila saham ini turun menembus level Rp 2.890.
Pandangan Positif JP Morgan
Sebelumnya, JP Morgan telah menunjukkan pandangan yang positif terhadap saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Lembaga riset ini menilai adanya perbaikan signifikan pada kinerja perseroan, yang mendorong mereka untuk meng-upgrade rekomendasi saham BBRI dengan target harga yang moderat.
Berdasarkan riset JP Morgan, kekuatan bisnis BBRI terletak pada segmen kredit mikro yang memungkinkan perseroan meraih profitabilitas tinggi. Meskipun sempat menghadapi tantangan akibat pemburukan aset yang menghambat profitabilitas, JP Morgan mencatat bahwa masalah tersebut kini mulai teratasi seiring dengan perbaikan internal dan berbagai program pemerintah yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah.
JP Morgan mengakui bahwa BBRI mungkin tidak dapat secara leluasa menaikkan biaya dana kepada nasabah, mengingat sebagian portofolio kreditnya memiliki suku bunga tetap atau semi-tetap. Di sisi lain, BBRI berupaya meningkatkan penyaluran kredit korporasi. Penurunan Net Interest Margin (NIM) BBRI dinilai kemungkinan besar akan terjadi, namun hal ini dianggap sudah diperhitungkan oleh pasar, terutama setelah munculnya informasi mengenai penurunan imbal hasil pinjaman PNM.
Valuasi Murah Menjadi Katalis
JP Morgan memprediksi bahwa konsensus pasar akan segera merevisi proyeksi kinerja keuangan BBRI. Perubahan proyeksi ini, ditambah dengan valuasi saham yang saat ini tergolong murah di level -2 standar deviasi (SD), diprediksi akan menjadi katalis kuat yang mendorong reli saham BBRI.
Secara fundamental bisnis, BBRI dinilai memiliki modal yang kuat untuk mendukung pertumbuhan di masa mendatang, yang membuka peluang bagi perseroan untuk membagikan dividen dalam jumlah besar. Sejalan dengan pandangan tersebut, JP Morgan meng-upgrade saham BBRI menjadi ‘overweight’ dengan target harga Rp 3.400. Target harga ini didasarkan pada Price to Book Value (PBV) wajar sebesar 1,2 kali, dengan asumsi Return on Equity (ROE) 17,4%, risk-free rate 7%, biaya modal 15,4%, dan terminal growth rate 7%.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.