Detak Media — PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menganggap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,3% secara tahunan pada kuartal II-2026 sebagai sinyal positif. Namun, capaian tersebut dinilai belum cukup untuk meningkatkan optimisme pelaku pasar. Investor masih cenderung bersikap selektif dalam menempatkan dana di pasar saham.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa sikap hati-hati investor tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meskipun indeks kembali menguat, reli pasar dinilai belum didukung oleh saham-saham berfundamental kuat maupun arus masuk dana asing.
“IHSG memang melanjutkan penguatan, tetapi kualitas reli masih terbatas. Kenaikan indeks lebih banyak ditopang saham-saham spekulatif, sementara investor asing masih mencatatkan net sell pada sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti TLKM, BBRI, dan ASII,” ujar Rully dalam keterangan pers, Kamis (6/8/2026).
Menurut Rully, kondisi tersebut menunjukkan bahwa data pertumbuhan ekonomi belum menjadi katalis utama bagi keputusan investasi. Hal ini terlihat dari masih tertekannya sejumlah saham unggulan seperti TLKM, BBRI, BBCA, ASII, dan BMRI, meskipun produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh di atas ekspektasi pasar.
“Pasar tidak hanya melihat besarnya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mencermati kualitas dan keberlanjutan sumber pertumbuhan tersebut. Selama arus dana asing belum kembali dan saham-saham berkapitalisasi besar belum menguat secara merata, investor masih cenderung selektif,” jelasnya.
Rully juga menilai penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan fundamental domestik. Penguatan yen Jepang setelah intervensi terkoordinasi Jepang dan Amerika Serikat menekan penguatan dolar AS, sehingga turut menopang mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Oleh karena itu, Mirae Asset mengingatkan pelaku pasar untuk tetap mencermati kualitas reli IHSG hingga arus dana asing dan saham-saham berkapitalisasi besar menunjukkan perbaikan yang lebih konsisten.
Pertumbuhan Dinilai Belum Berkualitas
Senada dengan itu, Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 memang masih solid. Namun, kualitas pertumbuhannya perlu dicermati karena sebagian besar didorong stimulus fiskal, basis belanja pemerintah yang rendah, serta faktor musiman.
Menurut Novani, konsumsi pemerintah tumbuh 16% YoY, menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi di sisi pengeluaran. Kenaikan tersebut ditopang pembayaran gaji ke-13, belanja pegawai, serta realisasi berbagai program pemerintah.
Sebaliknya, konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar PDB melambat menjadi 5,1% YoY. Sementara itu, ekspor neto justru mengurangi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,8 poin persentase karena impor meningkat lebih cepat dibandingkan ekspor.
“Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II masih terlihat kuat, tetapi sumber pertumbuhannya belum sepenuhnya mencerminkan penguatan permintaan domestik yang berkelanjutan. Sejumlah faktor pendukung berasal dari belanja pemerintah yang bersifat temporer sehingga ruang penguatannya diperkirakan lebih terbatas pada semester kedua,” ujarnya.
Mirae Asset memperkirakan momentum pertumbuhan ekonomi berpotensi melemah pada kuartal III-2026. Normalisasi belanja pemerintah setelah realisasi yang tinggi pada semester pertama, ditambah kontribusi ekspor yang masih lemah, diperkirakan akan mengurangi laju pertumbuhan ekonomi.
Novani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 berpotensi turun ke bawah 5% YoY apabila tidak diimbangi peningkatan investasi dan aktivitas sektor manufaktur yang lebih kuat.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.