Detak Media — Minyak jelantah, yang sering dianggap sebagai limbah rumah tangga, kini berpeluang besar menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam ekonomi sirkular. Lebih dari sekadar limbah, minyak jelantah yang dikelola dengan baik dapat diolah kembali menjadi berbagai produk bernilai tambah, termasuk sebagai bahan baku utama untuk energi terbarukan seperti biodiesel dan bioavtur.
Direktur PT Biosirkular Inovasi Indonesia, Dicka Dwi Candra, menjelaskan bahwa dengan sistem pengumpulan yang lebih terstruktur, minyak jelantah rumah tangga memiliki potensi signifikan untuk menjadi bagian dari rantai pasok bahan baku berkelanjutan di Indonesia. “Ekonomi sirkular harus bisa dimulai dari hal yang paling dekat dengan masyarakat. Dari dapur rumah tangga, dari minyak jelantah, dari kebiasaan kecil yang dikelola dengan sistem yang benar,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Ia menambahkan, jika pengelolaan minyak jelantah berjalan konsisten, dampaknya tidak hanya menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membentuk budaya baru dalam mengelola limbah bernilai. PT Biosirkular Inovasi Indonesia memperkuat komitmennya dalam pengembangan ekonomi sirkular berbasis masyarakat melalui keterlibatan dalam Gerakan “Minyak Jelantah Jadi Rupiah” di Jawa Tengah.
Program ini merupakan langkah kolaboratif untuk mengubah minyak jelantah rumah tangga yang selama ini kerap dianggap remeh menjadi sumber daya bernilai yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan. Gerakan ini diluncurkan oleh TP PKK Provinsi Jawa Tengah dalam acara Kick Off Meeting Gerakan Minyak Jelantah Jadi Rupiah di Wisma Perdamaian, Kota Semarang.
Dalam pelaksanaannya, TP PKK Jawa Tengah menggandeng PT Biosirkular Inovasi Indonesia dan PT Gapura Mas Lestari untuk mengembangkan sistem pengelolaan minyak jelantah yang berpusat pada masyarakat. Dicka menyampaikan bahwa keterlibatan Biosirkular tidak hanya sebagai mitra pengumpulan, tetapi juga sebagai pengembang ekosistem yang komprehensif.
Ekosistem ini mencakup edukasi kepada masyarakat, penyediaan titik pengumpulan, sistem penjemputan yang efisien, pencatatan digital yang transparan, hingga pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku bernilai tambah. “Tantangannya bukan hanya mengumpulkan minyak jelantah, tetapi membangun sistem yang rapi, transparan, dan berkelanjutan dari rumah tangga hingga hilir,” ungkap Dicka.
Biosirkular mendorong empat pendekatan utama dalam implementasi pengelolaan minyak jelantah: edukasi masyarakat, penyediaan titik pengumpulan di desa dan kelurahan, penjemputan oleh operator yang ditunjuk, serta pencatatan digital untuk memastikan proses pengumpulan berjalan terukur dan dapat dipantau. Digitalisasi dianggap krusial dalam membangun kepercayaan masyarakat dan kelembagaan lokal.
Dengan pencatatan yang transparan, setiap aktivitas pengumpulan dapat terdokumentasi dengan baik, mulai dari sumber minyak jelantah, volume yang terkumpul, titik pengumpulan, hingga proses penjemputan. “Kami ingin menghadirkan sistem yang membuat pengelolaan minyak jelantah lebih mudah dipahami, lebih tertib dijalankan, dan lebih transparan dipantau. Ketika masyarakat, kader, dan operator memiliki data yang jelas, maka program ini bisa tumbuh menjadi gerakan yang kuat dan berkelanjutan,” tambah dia.
Biosirkular menilai keterlibatan PKK dan Posyandu sebagai kekuatan vital dalam membangun perubahan perilaku di tingkat keluarga. Dengan jaringan yang dekat dengan masyarakat, kader PKK dan Posyandu memiliki peran strategis dalam mengedukasi warga agar tidak lagi membuang minyak jelantah sembarangan atau menggunakan minyak goreng berulang kali secara berlebihan.
Selain memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, pengelolaan minyak jelantah juga berkontribusi signifikan dalam mengurangi potensi pencemaran lingkungan. Minyak jelantah yang dibuang ke saluran air, tanah, atau lingkungan sekitar dapat mengganggu ekosistem dan menimbulkan persoalan sanitasi. Oleh karena itu, pengumpulan minyak jelantah secara terarah menjadi bagian penting dari upaya menjaga lingkungan dari tingkat rumah tangga.
Keterlibatan Biosirkular dalam Gerakan Minyak Jelantah Jadi Rupiah merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk membangun model pengelolaan sumber daya sirkular yang inklusif. Biosirkular meyakini bahwa transformasi limbah menjadi nilai ekonomi membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, organisasi masyarakat, kelembagaan desa, pelaku usaha, hingga masyarakat sebagai aktor utama.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.