— Presiden Prabowo Subianto menerima laporan mengenai kondisi ketahanan pangan nasional dari Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa (28/7/2026). Pertemuan ini digelar khusus untuk mengevaluasi dan memastikan kesiapan pasokan pangan di tengah potensi dampak fenomena El Nino yang dapat memicu kemarau panjang.

Sebelum rapat, Mentan Amran menyatakan bahwa dampak El Nino terhadap sektor pertanian sejauh ini masih terbatas di beberapa wilayah. Ia meyakini bahwa dampak kecil tersebut tidak akan memengaruhi ketersediaan stok pangan nasional secara signifikan. “Mungkin ada dampak kecil-kecil, tapi itu tidak akan berpengaruh pada stok nasional,” ujar Amran di Istana Kepresidenan.

Stok Beras Melimpah, Cadangan Tembus Jutaan Ton

Pemerintah optimistis pasokan beras nasional tetap mencukupi dan masyarakat tidak perlu khawatir akan kenaikan harga pangan pokok. Data Kementerian Pertanian per Juli 2026 menunjukkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang tersimpan di gudang Perum Bulog mencapai sekitar 5,2 juta ton. Selain itu, potensi padi siap panen di lahan beririgasi diperkirakan mencapai 10 hingga 11 juta ton, menunjukkan ketahanan sektor pertanian beririgasi dalam menghadapi cuaca kering.

Estimasi cadangan beras yang tersebar di tingkat rumah tangga, hotel, hingga restoran diperkirakan mencapai 12 juta ton. Akumulasi seluruh cadangan ini diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat hingga 10 bulan ke depan. “Kalau kita hitung 10 bulan ke depan mulai Agustus, September, Oktober, November, Desember, Januari, Februari, hingga Maret ini overlap. Bulan Maret nanti sudah masuk puncak panen, jadi ketersediaan beras sangat aman,” terang Amran.

Strategi Konkret Pemerintah Redam Dampak Kekeringan

Untuk mengantisipasi El Nino, pemerintah mengandalkan rekam jejak dan pengalaman dari penanganan fenomena serupa pada 2016 yang tergolong ekstrem. Berbagai langkah taktis di sektor hulu dan hilir telah disiagakan, antara lain:

  • Pompanisasi Massal: Pendistribusian sekitar 100.000 unit pompa air ke berbagai daerah rawan kekeringan di seluruh Indonesia.
  • Perbaikan Irigasi: Merestrukturisasi dan membenahi jaringan irigasi seluas 900 ribu hektare (Ha) bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum.
  • Pengembangan Benih Unggul: Menyiapkan varietas benih padi yang tahan terhadap kondisi kekeringan ekstrim guna menjaga produktivitas lahan.
  • Optimalisasi Lahan Rawa & Cetak Sawah: Mengoptimalkan lahan rawa hingga mencapai 800 ribu Ha serta merampungkan program cetak sawah baru melebihi 200 ribu Ha pada 2026.
  • Infrastruktur Pendukung: Pembangunan embung, sumur dangkal, dan sumur dalam di kawasan pertanian untuk menjamin ketersediaan pasokan air.

“Yang terpenting hari ini stok kita tetap bertahan di angka 5,2 juta ton. Jadi insyaallah aman,” pungkas Amran.

Fenomena iklim El Nino kerap menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan di Indonesia karena memicu kenaikan suhu air laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada turunnya curah hujan secara drastis. Musim kemarau yang lebih panjang dan kering berisiko memicu kegagalan panen (puso), penurunan produktivitas lahan, serta kekeringan pada sumber-sumber air irigasi utama. Sejarah mencatat bahwa gelombang El Nino kuat, seperti yang terjadi pada 2015–2016 dan 2023, sempat menekan produksi beras nasional dan memicu lonjakan harga pangan di pasar domestik.

Belajar dari pengalaman tersebut, transformasi tata kelola pertanian nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan swasembada dan kemandirian pangan sebagai prioritas strategis jangka panjang. Melalui integrasi teknologi mitigasi iklim seperti pemanfaatan lahan rawa, modifikasi varietas tanaman, dan modernisasi infrastruktur pengairan, pemerintah berupaya memutus ketergantungan pada impor serta membangun daya tahan (resilience) sektor pertanian nasional menghadapi ketidakpastian iklim global.