Detak Media — Sektor pertanian padi di Indonesia membutuhkan solusi darurat untuk menghadapi fenomena El Nino yang diprediksi akan menguat dalam beberapa bulan mendatang. Langkah-langkah seperti penyediaan mobil tangki air dan pembangunan sumur dalam hingga kedalaman lebih dari 100 meter menjadi opsi krusial.
Sentra-sentra produksi padi utama, khususnya di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, saat ini dilaporkan telah mengalami kekeringan yang diperkirakan akan semakin parah akibat dampak El Nino. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan penurunan produksi beras nasional, meskipun para petani optimis target minimal 30 juta ton masih dapat tercapai tahun ini.
Menurut Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, HM Yadi Sofyan Noor, data terbaru dari jaringan asosiasi petani menunjukkan hampir seluruh sentra padi di Indonesia dilanda kekeringan. “Ya, betul, El Nino sudah diumumkan sangat kuat sampai September tahun ini. Kalau Jawa Barat itu yang parah Indramayu dan Subang, di Jawa Tengah itu Purworejo meski masih ada air, di Jawa Timur sebagian besar sudah kena kekeringan, seperti Jember dan lainnya. Di Kalimantan Selatan itu di Tanah Bumbu dan Banjar juga sudah kering. Di Samarinda juga sudah setengah bulan tidak hujan,” jelasnya.
Kondisi kekeringan ini berisiko menurunkan produksi beras nasional, mengingat sentra-sentra padi tersebut, terutama Indramayu dan Subang, merupakan penyokong utama produksi beras Indonesia. “Artinya, semua (sentra padi) memang sudah kena (kekeringan). Makanya, kalau bicara produksi bisa turun, bisa terjadi ya,” ujar Sofyan.
Jaringan petani yang tergabung di KTNA telah memiliki pengalaman menghadapi El Nino, seperti pada tahun 1997 dan 2023. Namun, keterbatasan pasokan air membuat operasional pompa bantuan pemerintah menjadi kurang optimal. “Kita di KTNA sudah terlatih, ada pompa-pompa yang pernah dibantu pemerintah, itu kita gunakan lagi. Masalahnya, airnya juga enggak ada. Jadi, memang risiko turun produksi pastilah itu, kita harus akui, tidak bisa ditutup-tutupi,” tutur Sofyan.
KTNA mengapresiasi upaya pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian (Kementan), dalam memberikan bantuan pompa air dan pembangunan sumur dalam. Namun, upaya tersebut dinilai belum sepenuhnya mencukupi. “Masalahnya itu air (enggak ada), jadi bukan soal pompa. Hampir semua daerah sudah kering. Tapi di Sragen itu banyak sumur dalam bantuan Kementan, itu bagus (kalau diperluas),” jelasnya.
Sofyan menekankan bahwa risiko penurunan produksi padi akibat El Nino perlu diwaspadai, meskipun stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini sangat melimpah, mencapai lebih dari 5 juta ton. “Kalau enggak ada panen nanti enggak ada yang diserap,” katanya. Oleh karena itu, solusi darurat jangka pendek sangat dibutuhkan pemerintah untuk mencegah gagal panen akibat kekeringan panjang.
Selain memperluas bantuan sumur dalam, pemerintah perlu menyiapkan mobil tangki air untuk membantu irigasi sawah. “Untuk penyediaan mobil-mobil itu kami akan berkoordinasi dengan Dewan Air (Dewan Sumber Daya Air Nasional) melalui fasilitasi Kementan tentunya,” tandas Sofyan. Meskipun memperkirakan adanya potensi penurunan produksi beras nasional, KTNA meyakini hasil panen tahun ini tidak akan jatuh di bawah 30 juta ton.
Produksi Beras Diproyeksikan Tetap Meningkat
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras nasional untuk konsumsi pangan masyarakat sepanjang Januari-September 2026 sebesar 28,71 juta ton. Angka ini menunjukkan peningkatan tipis sebesar 0,01% dibandingkan periode yang sama tahun 2025, mencerminkan terjaganya kinerja sektor pertanian di tengah dinamika musim tanam.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan bahwa proyeksi tersebut menunjukkan produksi beras nasional masih berada dalam tren positif. “Produksi beras di Januari-September 2026 diperkirakan mencapai 28,71 juta ton atau meningkat 0,01% dari periode sama 2025,” ujar Ateng dalam Berita Resmi Statistik (BRS) BPS pada 3 Agustus 2026. Potensi produksi beras selama periode Juli-September 2026 diperkirakan mencapai 9,36 juta ton, yang diharapkan menjadi penopang utama ketersediaan pasokan nasional pada triwulan III-2026.
Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional (Mentan/Kepala Bapanas), Andi Amran Sulaiman, menambahkan bahwa peningkatan produksi beras nasional ini menunjukkan keberhasilan berbagai program percepatan produksi yang dijalankan pemerintah. Capaian ini menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan pangan dan mempercepat terwujudnya swasembada pangan berkelanjutan. “Di tengah tantangan iklim, produksi pangan tidak boleh turun. Justru seluruh jajaran pertanian harus bergerak lebih cepat memastikan petani tetap berproduksi dengan optimal,” paparnya dalam keterangan yang dikutip pada hari yang sama.
Kementan telah mengantisipasi potensi kekeringan melalui berbagai langkah mitigasi, termasuk percepatan luas tambah tanam, optimasi lahan, pompanisasi, penyediaan alat dan mesin pertanian, serta pendampingan intensif kepada petani di sentra-sentra produksi. Upaya ini dilakukan agar ketersediaan air tetap terjaga dan aktivitas budi daya tidak terganggu selama musim kemarau.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.