Detak Media — JAKARTA – Kinerja keuangan emiten di sektor kawasan industri pada semester I-2026 menunjukkan hasil yang beragam. PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) melaporkan kerugian, berbanding terbalik dengan emiten lain seperti PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) yang justru membukukan laba signifikan.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, KIJA mengalami kerugian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp177 miliar. Angka ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan laba. Meskipun terdapat laba untuk kepentingan nonpengendali sebesar Rp171,44 miliar, angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan Rp316,90 miliar pada semester I-2025. Secara total, KIJA membukukan kerugian bersih sebesar Rp6,43 miliar, berbalik dari laba Rp627 miliar pada tahun sebelumnya.
Manajemen KIJA menjelaskan bahwa kerugian bersih ini disebabkan oleh beban non-operasional bersifat satu kali (one-off) terkait refinancing Senior Notes menjadi pinjaman bank. Beban tersebut meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen derivatif (hedging), dan beban amortisasi yang dipercepat untuk Senior Notes yang jatuh tempo pada 2027. Inisiatif refinancing ini diharapkan memberikan manfaat keuangan jangka panjang meskipun berdampak sementara pada kinerja keuangan periode berjalan.
Selain itu, penjualan dan pendapatan jasa KIJA juga terkoreksi dari Rp2,72 triliun menjadi Rp2,43 triliun. Bisnis penjualan tanah matang yang sebelumnya menjadi motor pendapatan merosot dari Rp1,33 triliun menjadi Rp783 miliar. Bisnis penyewaan ruang perkantoran, pabrik, dan rumah toko (ruko) juga mengalami penurunan dari Rp28,57 miliar menjadi Rp23,99 miliar.
Wakil Direktur Utama KIJA, Budianto Liman, menyatakan bahwa kinerja semester pertama mencerminkan kontribusi bisnis infrastruktur yang terus meningkat, menyumbang lebih dari separuh pendapatan konsolidasian. Ia menambahkan bahwa permintaan lahan industri di Cikarang dan Kendal tetap baik, sembari fokus pada eksekusi disiplin dan penguatan basis pendapatan berulang. “Kami terus melihat permintaan yang baik terhadap lahan industri baik di Cikarang maupun Kendal, sembari tetap fokus pada eksekusi yang disiplin di seluruh lini bisnis serta memperkuat basis pendapatan berulang kami,” ujar Budianto.
Kinerja kurang memuaskan juga dialami oleh PT Metropolitan Land Tbk (MTLA). Pendapatan MTLA tergerus dari Rp837 miliar pada semester I-2025 menjadi Rp791 miliar pada semester I-2026. Penurunan pendapatan ini berdampak pada laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp168 miliar, turun dari Rp208 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba yang diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali juga menurun menjadi Rp4,8 miliar dari Rp32 miliar, sehingga total laba bersih MTLA pada semester I-2026 adalah Rp173 miliar, lebih rendah dari Rp241 miliar pada semester I-2025.
SSIA dan DMAS Berkibar
Berbeda dengan KIJA dan MTLA, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) menunjukkan kinerja yang cemerlang. SSIA melaporkan lonjakan pendapatan usaha dari Rp2,11 triliun menjadi Rp3,35 triliun pada semester I-2026.
Laba kotor meningkat menjadi Rp1 triliun setelah dikurangi beban langsung sebesar Rp2,26 triliun. Laba usaha melonjak hingga Rp633 miliar, naik dari Rp102 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Setelah dipotong beban dan pajak, SSIA mencatatkan laba periode berjalan naik tajam dari Rp21,13 miliar menjadi Rp479 miliar. Rinciannya, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp262 miliar dan kepentingan nonpengendali sebesar Rp217 miliar. SSIA berhasil membalikkan keadaan dari rugi sebesar Rp32,34 miliar pada semester I-2025 menjadi laba Rp262 miliar pada semester I-2026.
PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) juga mencatatkan kinerja impresif di paruh pertama 2026. Pendapatan usaha pengembang Kota Deltamas ini melonjak hampir tiga kali lipat menjadi Rp1,80 triliun, dibandingkan Rp613,36 miliar pada semester I-2025. Segmen industri menjadi kontributor utama dengan Rp1,75 triliun, disusul segmen hunian dan komersial masing-masing Rp19,32 miliar dan Rp18,16 miliar. Pendapatan dari segmen sewa dan hotel masing-masing sebesar Rp9,47 miliar dan Rp8,07 miliar.
Direktur dan Sekretaris DMAS, Tondy Suwanto, menyebutkan sektor data center menjadi pelanggan utama yang berkontribusi pada penjualan lahan industri di paruh pertama 2026. Laba kotor melonjak 197,22% menjadi Rp1,28 triliun, dengan marjin laba kotor 70,81%. Laba bersih DMAS melesat 175,34% menjadi Rp1,19 triliun pada semester I-2026, naik dari Rp433 miliar pada tahun sebelumnya.
“Perseroan tidak memiliki utang. Dengan posisi kas bersih yang sehat, kami terus mengembangkan Kota Deltamas untuk mewujudkannya sebagai kawasan terpadu modern di timur Jakarta dengan memadukan kawasan industri, komersial, dan hunian,” pungkas Tondy.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.