— Harga Bitcoin (BTC) terpantau melemah pada Jumat (7/8/2026) pagi, di tengah minimnya volatilitas pasar. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko stagflasi di Amerika Serikat. Data aktivitas sektor jasa dan ketenagakerjaan AS mengindikasikan adanya perlambatan ekonomi yang berbarengan dengan tekanan inflasi.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 07.00 WIB, kapitalisasi pasar aset kripto global tercatat terkoreksi 0,73% menjadi US$ 2,19 triliun dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin (BTC) sendiri turun 0,51% ke level US$ 64.265 per koin atau setara Rp 1,15 miliar (dengan kurs Rp 17.919 per dolar AS).

Sementara itu, aset kripto lainnya seperti Ethereum (ETH) mengalami penurunan 0,23% menjadi US$ 1.902, dan Binance Coin (BNB) terpangkas 0,26% ke US$ 591. Indeks CoinDesk 20, yang mengukur kinerja 20 aset kripto terbesar, juga mencatat penurunan sebesar 0,48%.

Harapan pasar terhadap kesepakatan antara Iran dan Oman untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz belum mampu mendongkrak pergerakan pasar kripto secara signifikan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa kesepahaman tersebut belum berarti Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya.

Di sisi lain, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertahan di kisaran US$76 per barel, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam tiga pekan di US$74,30 per barel.

Pelaku pasar juga menyoroti data terbaru Institute for Supply Management (ISM) Services PMI Amerika Serikat (AS). Indeks PMI sektor jasa naik tipis 0,1 poin menjadi 54,1 pada Juli. Namun, indeks ketenagakerjaan justru turun 3,6 poin menjadi 47,4, mencatat level terendah sejak Maret.

Bersamaan dengan itu, indeks harga yang dibayar (prices paid) melonjak 2,6 poin menjadi 70,3, mendekati level tertinggi sejak Oktober 2022. Kombinasi kenaikan tekanan harga dan pelemahan pasar tenaga kerja ini menunjukkan bahwa risiko stagflasi di AS kembali meningkat.

Bitcoin Masih Kehilangan Momentum

Platform analisis on-chain Glassnode menilai pergerakan Bitcoin saat ini lebih mencerminkan kejenuhan pasar dibandingkan kepanikan investor. Menurut Glassnode, Bitcoin nyaris tidak menunjukkan reaksi meski harga emas telah mencapai level tertinggi dalam enam pekan terakhir dan indeks S&P 500 mencetak rekor baru.

Glassnode menyebut pasar Bitcoin saat ini masih berada dalam fase konsolidasi dengan minat investor yang relatif rendah. Meskipun demikian, tanda-tanda pembentukan dasar harga mulai terlihat, meski belum sepenuhnya terbentuk.

Pandangan serupa disampaikan oleh Bitfinex Research, yang menilai Bitcoin masih membutuhkan katalis makroekonomi yang lebih kuat untuk dapat keluar dari fase pergerakan sempit saat ini. Menurut Bitfinex, pelemahan relatif Bitcoin dibandingkan indeks Nasdaq dan S&P 500 memang menunjukkan adanya tekanan di pasar kripto. Namun, penurunan yang lebih dalam baru akan terjadi jika muncul pemicu ekonomi yang lebih besar disertai lonjakan volume transaksi.