Detak Media — Kebakaran hutan dahsyat yang melanda wilayah Gironde, Prancis bagian barat daya, memicu ledakan dari amunisi sisa Perang Dunia II (PD II). Sejumlah peluru meriam kuno yang tersimpan di sebuah gudang terbengkalai di komune Le Porge meledak setelah dilalap si jago merah.
Wali Kota Le Porge, Martial Zaninetti, mengungkapkan bahwa sebagian amunisi meledak di tempat, sementara sebagian lainnya terlempar dan tersebar ke wilayah sekitarnya. Satu peluru meriam dilaporkan bahkan menembus sebuah bangunan tempat tinggal warga. Hingga berita ini ditayangkan, tidak ada korban luka maupun jiwa yang dilaporkan dari insiden tersebut.
Suasana mencekam menyelimuti lokasi ketika sekitar 100 ledakan terdengar beruntun selama kebakaran hebat yang berkobar pada 23–24 Juli 2026. Warga dan otoritas setempat sempat mengira suara keras itu berasal dari tabung gas yang meledak.
Saat ini, unit penjinak bom telah diturunkan ke lokasi untuk menyisir dan membersihkan amunisi yang tersisa. Di sisi lain, penanganan kebakaran masih menghadapi kendala besar. Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menyatakan bahwa garis depan api di kawasan Gironde telah meluas hingga 240 kilometer dan statusnya masih belum terkendali.
Benua Eropa tengah dihantam gelombang panas ekstrem, salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Selain Prancis, negara-negara seperti Spanyol, Portugal, Italia, dan Yunani juga mengalami dampak kekeringan yang hebat. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengakui bahwa sepanjang musim panas ini, negaranya menghadapi lonjakan jumlah kasus kebakaran hutan tertinggi sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Ancaman sisa-sisa amunisi militer Perang Dunia II yang belum meledak atau Unexploded Ordnance (UXO) masih menjadi persoalan laten di berbagai wilayah Eropa, khususnya Prancis dan Jerman. Berada di jalur utama pertempuran darat dan pemboman intensif pada era 1939–1945, jutaan ton bom, artileri, dan peluru meriam terkubur di dalam tanah atau tersembunyi di struktur bangunan terbengkalai.
Dalam kondisi normal, amunisi tua ini terendap stabil di bawah tanah. Namun, seiring meningkatnya frekuensi kekeringan dan kebakaran hutan akibat perubahan iklim global, suhu ekstrem dapat memicu mekanisme peledak kuno yang sudah lapuk tersebut. Fenomena meluasnya kebakaran hutan di musim panas kini tidak hanya mengancam ekosistem dan pemukiman, tetapi juga membuka risiko keselamatan baru dari bahaya peledak sisa perang yang tertidur puluhan tahun.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.