— Pemerintah Indonesia sukses melakukan penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dalam denominasi Renminbi China atau Panda Bonds di pasar obligasi Tiongkok. Penerbitan ini mencatatkan permintaan yang sangat positif, mencapai 2,4 kali lipat dari nilai yang ditawarkan, mengindikasikan tingginya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Panda Bonds yang diterbitkan senilai 7 miliar Renminbi China (CNY) atau setara dengan US$ 1,033 miliar ini, menarik total permintaan hingga 17 miliar CNY. Angka ini jauh melampaui target penerbitan, tercermin dari rasio bid-to-cover sebesar 2,4 kali, yang berarti permintaan investor melebihi jumlah obligasi yang ditawarkan sebanyak 2,4 kali.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, menyatakan bahwa ini adalah kali pertama Pemerintah Indonesia menerbitkan SUN dalam mata uang asing berdenominasi Renminbi. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya diversifikasi sumber pendanaan negara.

Tingginya minat investor memungkinkan pemerintah untuk mendapatkan biaya pendanaan yang efisien dengan tingkat imbal hasil (yield) yang kompetitif. Dana hasil penerbitan Panda Bonds ini akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026.

“Tingginya permintaan investor dan tingkat imbal hasil yang kompetitif mencerminkan kuatnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi, maupun kredibilitas pengelolaan fiskal Indonesia,” ujar Suminto, Kamis (23/7/2026) malam.

Penerbitan Panda Bonds dibagi menjadi dua seri berdasarkan jangka waktu (tenor). Seri pertama memiliki tenor 3 tahun dengan nilai penerbitan 5,6 miliar CNY dan menetapkan yield sebesar 1,9%. Seri kedua berjangka waktu 5 tahun senilai 1,4 miliar CNY dengan yield 2,19%.

Pada seri tenor 3 tahun, permintaan investor mencapai 12,38 miliar CNY untuk penerbitan 5,6 miliar CNY, menghasilkan rasio bid-to-cover 2,2 kali. Sementara itu, seri tenor 5 tahun mencatat permintaan sebesar 4,62 miliar CNY dari target penerbitan 1,4 miliar CNY, dengan rasio bid-to-cover 3,3 kali.

Surat Utang Negara Panda Bonds yang diterbitkan ini memperoleh peringkat AAA (Stabil) dari China Lianhe Credit Rating Co Ltd. Bank of China Limited bertindak sebagai lead underwriter dan lead bookrunner. Sejumlah institusi keuangan lain seperti China International Capital Corporation Limited, CITIC Securities Co Ltd, DBS Bank (China) Limited, dan Industrial and Commercial Bank of China Limited, turut menjadi joint lead underwriters dan joint bookrunners. Agricultural Bank of China Limited, China Construction Bank Corporation, dan The Export Import Bank of China bertindak sebagai co-managers.

Suminto menambahkan, penerbitan Panda Bonds ini bertujuan untuk mendiversifikasi instrumen pembiayaan dan memperluas basis investor. Hal ini sejalan dengan kerja sama Indonesia dan China dalam skema penggunaan mata uang lokal (local currency transaction/LCT).

“Penerbitan Panda Bonds dalam denominasi Chinese Renminbi (CNY) sangat strategis dalam konteks China sebagai mitra utama perdagangan maupun investasi. Penerbitan Panda Bonds ini juga sinergis dengan local currency transaction antara kedua negara yang tumbuh pesat,” jelas Suminto.

Kombinasi Kepercayaan dan Likuiditas Pasar

Irman Faiz, Chief Economist Bank Danamon, menilai oversubscription Panda Bonds sebesar 2,4 kali merupakan hasil dari kombinasi antara kepercayaan investor terhadap kualitas kredit Indonesia dan kondisi likuiditas pasar China yang sangat mendukung.

“Oleh karena itu, tingginya permintaan tidak dapat hanya dilihat dari sisi imbal hasil ataupun semata-mata dianggap sebagai bukti kuatnya fundamental Indonesia,” terang Faiz.

Menurutnya, Indonesia memiliki daya tarik sebagai sovereign issuer dengan peringkat investment grade, disiplin fiskal yang terjaga, serta rekam jejak pembayaran utang yang baik. Faktor-faktor fundamental ini menjadi pondasi utama kepercayaan investor.

Di sisi lain, likuiditas domestik yang memadai di China, didorong oleh stimulus pemerintah dan suku bunga rendah, membuat investor mencari aset dengan imbal hasil lebih tinggi namun tetap memiliki profil risiko yang baik.

Faiz juga menekankan nilai strategis Panda Bonds sebagai alternatif sumber pembiayaan di luar dolar AS dan yen Jepang. Meskipun dolar AS masih menjadi pasar obligasi internasional terbesar, yen menawarkan biaya pendanaan kompetitif namun dengan basis investor yang lebih spesifik.

“Dengan masuk ke pasar obligasi onshore China, pemerintah memperoleh fleksibilitas yang lebih besar untuk memilih pasar dan mata uang yang menawarkan cost of funding paling efisien sesuai kondisi pasar pada saat penerbitan, sekaligus memperluas basis investor,” tutur Irman.

Ia mengingatkan bahwa efisiensi biaya bukan satu-satunya pertimbangan. Mengingat sebagian besar penerimaan negara berasal dari rupiah, sementara kewajiban utang valas dalam mata uang asing, porsi utang valas yang besar dapat meningkatkan eksposur terhadap risiko nilai tukar jika rupiah terdepresiasi. Saat ini, porsi utang valas Indonesia sekitar 30% dari total penerbitan.

“Oleh karena itu, saya melihat Panda Bonds sebaiknya diposisikan sebagai instrumen diversifikasi mata uang, yaitu melengkapi atau menggantikan sebagian penerbitan global bond dalam dolar AS maupun yen ketika kondisi pasar China lebih menarik, bukan untuk terus meningkatkan porsi utang valas dalam portofolio pemerintah,” sarannya.

Faiz memprediksi Panda Bonds berpotensi menjadi instrumen pembiayaan yang reguler di masa depan karena membuka akses ke basis investor baru. Namun, ia berpendapat obligasi berdenominasi rupiah akan tetap menjadi tulang punggung pembiayaan karena paling selaras dengan struktur penerimaan negara dan memiliki risiko nilai tukar yang lebih rendah. “Panda Bonds lebih tepat dipandang sebagai bagian dari strategi optimalisasi biaya dan risiko, yaitu memperluas pilihan sumber pendanaan, meningkatkan fleksibilitas pembiayaan, dan mengoptimalkan biaya serta risiko utang pemerintah secara keseluruhan,” jelasnya.

Risiko Nilai Tukar Menjadi Perhatian

Yusuf Rendy Manilet, peneliti dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, melihat penerbitan Panda Bonds sebagai langkah penting untuk memperluas sumber pembiayaan pemerintah, namun perlu dilihat secara objektif.

Faktor utama yang perlu diperhatikan adalah risiko nilai tukar. Pembayaran pokok dan bunga dalam yuan dapat meningkatkan beban utang dalam rupiah jika yuan menguat terhadap rupiah. Penguatan yuan bisa dipengaruhi oleh faktor domestik China, sementara rupiah dipengaruhi oleh faktor yang berbeda.

“Memang, nilai Panda Bonds ini masih relatif kecil dibandingkan total utang luar negeri pemerintah yang mencapai sekitar US$217 miliar. Namun, jika penerbitan dalam yuan terus meningkat, eksposur risiko mata uang juga akan bertambah. Pemerintah dapat melakukan lindung nilai atau hedging, tetapi biaya dan likuiditas pasar yuan terhadap rupiah masih belum sebaik pasar dolar terhadap rupiah,” jelas Yusuf kepada Investor Daily, Jumat (24/7/2026).

Ia menekankan bahwa biaya pendanaan tidak hanya dilihat dari kupon yang rendah, tetapi juga harus memperhitungkan risiko nilai tukar. Meskipun bid-to-cover yang tinggi menjadi sinyal positif, hal tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kepercayaan penuh terhadap ekonomi Indonesia.

Yusuf menjelaskan bahwa pasar obligasi China memiliki likuiditas besar dan investor institusi di sana membutuhkan aset berkualitas dengan imbal hasil yang lebih menarik. Faktor peringkat (rating) dan kondisi pasar domestik China juga turut mendorong minat investor.

“Dengan yield sekitar 1,90% untuk tenor tiga tahun dan 2,19% untuk tenor lima tahun, Panda Bonds memang terlihat kompetitif dibandingkan instrumen lain. Tetapi biaya pendanaan yang sebenarnya harus dihitung secara menyeluruh dengan memasukkan biaya hedging dan potensi perubahan nilai tukar. Dalam kondisi tertentu, biaya total setelah lindung nilai bisa saja mendekati atau bahkan lebih tinggi dibandingkan penerbitan dalam dolar,” ungkap Yusuf.

Dari perspektif hubungan ekonomi, penerbitan ini mencerminkan eratnya kerja sama Indonesia dan China. Namun, pemerintah perlu menjaga keseimbangan agar diversifikasi tidak berubah menjadi ketergantungan pada satu negara atau mata uang. Kuota penerbitan sebesar 30 miliar CNY dalam dua tahun ke depan perlu dikelola dengan hati-hati.

Mengenai LCT, Yusuf menyatakan bahwa keduanya memiliki fungsi berbeda namun saling mendukung. LCT bertujuan meningkatkan penggunaan rupiah dan yuan dalam transaksi perdagangan dan investasi, sedangkan Panda Bonds adalah instrumen pembiayaan pemerintah dalam yuan. Penerbitan Panda Bonds dapat memperkuat ekosistem yuan, namun tidak otomatis menjamin keberhasilan implementasi LCT.

“Dalam jangka panjang, Panda Bonds dapat menjadi alternatif pembiayaan yang bermanfaat selama tetap menjadi instrumen pelengkap. Kunci utamanya adalah kemampuan pemerintah mengelola risiko nilai tukar, menjaga proporsi utang yuan dalam batas yang sehat, dan memastikan biaya pendanaan setelah hedging tetap kompetitif,” pungkas Yusuf.