— Pemerintah Indonesia terus berupaya mempercepat hilirisasi industri kelapa sawit untuk menghasilkan berbagai produk bioenergi. Langkah ini diambil demi mewujudkan ketahanan dan swasembada energi nasional. Setelah sukses dengan program biodiesel, kini fokus diarahkan pada pengembangan produk seperti green diesel, bioavtur (sustainable aviation fuel/SAF) yang memanfaatkan minyak jelantah (used cooking oil/UCO), serta bensin berbasis sawit.

Untuk mendukung inisiatif ini, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit diharapkan dapat memperbesar peranannya dalam pembiayaan riset hilirisasi sawit. Hingga kini, BPDP telah membiayai 74 riset terkait bioenergi yang bersumber dari kelapa sawit.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa industri sawit memiliki posisi yang sangat strategis bagi perekonomian Indonesia. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai sekitar 3,5%. Diperkirakan pada 2025, sektor ini akan menyumbang devisa ekspor sebesar US$30,87 miliar atau setara 38,84 juta ton, yang merupakan peningkatan 11% dibandingkan tahun 2024. Peran industri sawit juga krusial di sektor pangan dan energi, salah satunya melalui program wajib pencampuran biodiesel sawit 50% ke dalam bahan bakar solar (B50).

“Agenda biodiesel ini merupakan titik sukses dari hilirisasi sawit nasional. Bapak Presiden (Prabowo Subianto) baru mengumumkan bahwa biodiesel B50 dimulai di tahun ini. Selanjutnya, Bapak Presiden berharap akan hilirisasi berikutnya bisa berjalan, antara lain green diesel, bioavtur (SAF), tentunya dengan pemanfaatan dari UCO, dan juga bensin berbasis sawit,” ujar Airlangga saat menutup Pekan Riset Sawit Indonesia (Perisai) 2026 di Jakarta, Selasa (21/07/2026), yang dipantau secara daring.

Airlangga menambahkan, keberhasilan hilirisasi sawit juga berkat peran riset yang dibiayai oleh BPDP. Dana BPDP sangat berperan dalam mendukung program prioritas pemerintah, termasuk agenda ketahanan dan swasembada energi nasional. “Dalam program B50 misalnya, dana BPDP-lah yang akan digunakan untuk subsidi tahun ini. Tapi karena harga solar dan sawit sudah dekat, tentu ada penghematan di tahun ini dengan pelaksanaan B50 yakni sekitar Rp18 triliun,” jelasnya.

Selain itu, sebagian dana BPDP juga dialokasikan untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) bagi nelayan. “Dalam rangka mendukung swasembada energi, Bapak Presiden mendorong kebijakan khusus bagi nelayan. Nelayan dengan kapal di bawah 20 gross tonnage (GT) mendapat solar B50 subsidi, pada saat yang sama bagi yang 20-200 GT diberi harga khusus Rp15 ribu per liter, diskon kompensasinya kembali ditanggung BPDP. Jadi, BPDP kelihatan super kuat,” katanya.

Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman memaparkan, total dukungan dana riset dari BPDP sejak berdiri hingga kini mencapai Rp921 miliar, melibatkan 109 lembaga penelitian dan pengembangan serta 1.900 peneliti. Rinciannya, 60 riset di bidang budi daya, 33 riset pascapanen dan pengolahan, 43 riset pangan, pakan, dan kesehatan, 74 riset bioenergi, 72 riset oleokimia dan biomaterial, 83 riset lingkungan dan penanganan limbah, serta 101 riset sosial, ekonomi, bisnis, manajemen pasar, dan ICT (teknologi informasi dan komunikasi). Hingga 30 Juni 2026, realisasi dana riset BPDP untuk tahun 2026 tercatat sekitar Rp90,65 miliar.

Tahun ini, BPDP telah menandatangani kontrak riset baru untuk 56 proposal. “Dalam rangka dukungan riset melalui jalur inisiatif, terdapat dua riset yang baru dikerjakan yaitu dari Kementerian Pertanian terkait kajian kelapa nasional termasuk supply-chain hingga pengembangan bisnis ke depan serta dari Kementerian ESDM terkait kesiapan infrastruktur penyediaan dan penggunaan B50,” jelas Eddy.

Riset Sawit Berkelanjutan

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menekankan pentingnya pengembangan riset yang dapat menjawab kebutuhan riil industri sawit, tidak hanya berorientasi pada publikasi akademik. Komitmen ini diperkuat dengan penandatanganan Komitmen Bersama antara Ditjen Perkebunan Kementan, BPDP, dan Gapki dalam mendukung Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan melalui Kegiatan Beasiswa Kelapa Sawit.

“Riset sawit harus mampu menghadirkan inovasi yang mendorong kemajuan industri minyak sawit berkelanjutan,” ujar Ketua Umum Gapki Eddy Martono. Ia menambahkan bahwa penelitian di sektor sawit harus menghasilkan inovasi yang dapat mendorong kemajuan industri minyak sawit berkelanjutan. “Industri sawit butuh riset yang mampu memberi solusi nyata terhadap berbagai tantangan yang dihadapi,” katanya.

Penandatanganan komitmen bersama ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan pelaku industri dalam mencetak SDM sawit unggul serta mendorong lahirnya penelitian yang solutif terhadap tantangan sektor perkebunan sawit. Melalui kolaborasi ini, ketiga pihak akan mendukung program beasiswa melalui sosialisasi, penyebarluasan informasi, fasilitasi calon penerima beasiswa, hingga penguatan keterkaitan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

Eddy Martono menyoroti salah satu persoalan serius yang membutuhkan perhatian adalah serangan jamur Ganoderma. Penyakit ini menyebabkan tanaman sawit mati dan mulai ditemukan pada tanaman hasil peremajaan generasi awal. “Ganoderma menjadi contoh mengapa riset terapan sangat dibutuhkan. Kita memerlukan teknologi yang tidak hanya mampu mendeteksi lebih dini, tetapi juga menemukan cara pengendaliannya. Persoalan seperti ini sangat dirasakan perusahaan maupun petani sawit,” jelasnya.