— JAKARTA – Indonesia dan China sepakat menjalin kerja sama strategis melalui penandatanganan tiga nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dalam forum Indonesia-China Partnership di Jakarta, Kamis (23/7/2026). Nilai ekonomi dari kesepakatan ini diperkirakan mencapai US$ 2 miliar atau setara dengan Rp 36 triliun, yang meliputi sektor pengembangan energi hijau, industri makanan dan minuman, serta properti dan rekayasa (engineering).

Duta Besar Republik Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun, mengutip dari Antara, menjelaskan bahwa salah satu kerja sama vital yang disepakati adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) agrivoltaik dengan kapasitas 300 megawatt (MW) di Sumatera Utara. Proyek energi hijau yang diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar di wilayah tersebut ini diperkirakan menelan investasi sekitar US$ 1,35 miliar.

Selain proyek energi terbarukan, kesepakatan lain mencakup nota kesepahaman antara PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk (BEER) dan Guangxi G. Taste Food Co., Ltd. yang berfokus pada sektor industri makanan dan minuman. Sementara itu, PT Telkom Properti Indonesia dan PT CNEC Engineering Indonesia menandatangani MoU untuk memperkuat kolaborasi di bidang properti dan rekayasa.

Djauhari Oratmangun menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam terus memperkuat iklim investasi. Upaya ini dilakukan melalui penyederhanaan perizinan, perbaikan ekosistem usaha, pemberian kepastian hukum, serta penciptaan iklim usaha yang lebih terbuka dan kompetitif. Pemerintah secara aktif mendorong masuknya investasi berkualitas yang tidak hanya menyumbangkan modal, tetapi juga memfasilitasi alih teknologi, membuka lapangan kerja, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat industri nasional, dan menciptakan nilai tambah domestik.

Ia menilai sektor energi hijau dan teknologi masa depan memiliki prospek cerah untuk mempererat kemitraan strategis kedua negara. Indonesia secara berkelanjutan berupaya memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan, mengembangkan ekosistem kendaraan listrik, memperkuat industri baterai, serta membangun kawasan industri hijau. Di sektor teknologi, peluang kolaborasi mencakup pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), manufaktur cerdas (smart manufacturing), industri digital, teknologi hijau, hingga otomatisasi industri.

“Indonesia bukan hanya pasar teknologi, tetapi mitra produktif, mitra inovasi, dan mitra pertumbuhan,” ujar Djauhari, menekankan potensi kolaborasi yang saling menguntungkan. Ia menambahkan bahwa China unggul dalam teknologi, manufaktur, permodalan, dan rantai pasok global, sementara Indonesia memiliki keunggulan pasar domestik yang besar, sumber daya alam strategis, bonus demografi, serta komitmen terhadap transformasi industri. Hubungan ekonomi kedua negara ke depan diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai perdagangan dan investasi, tetapi juga memastikan investasi yang masuk berkualitas, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi China di Indonesia sepanjang 2021 hingga semester I-2026 tercatat sebesar US$ 38,34 miliar, yang telah berhasil menciptakan lebih dari 500.000 lapangan kerja.