Detak Media — Pengembangan industri logam tanah jarang (LTJ) di Indonesia menghadapi tantangan utama pada aspek perolehan bahan baku yang ekonomis. Ketersediaan sumber daya LTJ nasional tidak hanya terbatas pada mineral ikutan dari pengolahan timah, nikel, dan bauksit, tetapi juga mencakup endapan hasil pelapukan granit yang ditemukan di Sulawesi Barat. Perbedaan karakteristik sumber daya ini menuntut strategi hilirisasi yang fleksibel dan tidak dapat diseragamkan.
PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) ditunjuk sebagai garda terdepan dalam upaya pengembangan industri LTJ nasional. BUMN ini akan menjalankan dua strategi utama secara simultan. Pertama, menggarap proyek percontohan untuk memanfaatkan endapan LTJ di Mamuju, Sulawesi Barat. Kedua, Perminas diproyeksikan berperan sebagai offtaker untuk mineral ikutan yang dihasilkan dari tailing timah, nikel, dan bauksit.
Kombinasi kedua skema ini diharapkan mampu menjadi pondasi pembentukan ekosistem LTJ nasional yang terintegrasi. Ekosistem ini akan mencakup seluruh tahapan, mulai dari penyediaan bahan baku, proses pemisahan, pemurnian, hingga pengembangan produk hilir bernilai tambah tinggi. Produk hilir tersebut meliputi magnet permanen, material untuk kendaraan listrik, energi bersih, dan industri pertahanan.
Dewan Pengawas Indonesia Mining Association (IMA), R. Sukhyar, menjelaskan bahwa monasit dari hasil samping smelter timah, tailing pengolahan nikel, dan residu bauksit merupakan sumber LTJ yang potensial untuk dimanfaatkan melalui teknologi pemisahan. Namun, faktor keekonomian sangat bergantung pada kadar unsur, biaya ekstraksi, perkembangan teknologi, serta harga LTJ di pasar global. Secara umum, suatu sumber LTJ mulai dilirik jika memiliki kadar sekitar 1% atau 10.000 ppm, meskipun ambang batas ini dapat bergeser seiring kemajuan teknologi.
Sukhyar menyarankan agar proses pemisahan dan pengolahan sumber LTJ ini melibatkan pihak swasta. Hal ini memerlukan regulasi lintas sektor yang mengatur pemanfaatan sisa hasil produksi. Mengingat, smelter di Indonesia memiliki dua lisensi, yaitu Izin Usaha Industri (IUI) di bawah Kementerian Perindustrian dan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Menurut saya dibuka kesempatan swasta untuk sirkular ekonomi pemanfaatan tailing dan LTJ yang dihasilkan itu dijual ke negara melalui Perminas,” ujar Sukhyar kepada Investor Daily.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdanakusumah, menambahkan bahwa nilai tambah terbesar dari LTJ dihasilkan setelah proses pemisahan dan pemurnian. Oleh karena itu, arah kebijakan LTJ sebaiknya difokuskan untuk mendorong terbentuknya ekosistem hilir yang mampu melaksanakan proses tersebut secara khusus dan berkelanjutan.
Arif mengemukakan bahwa industri pengolahan nikel yang sudah beroperasi dapat diberikan opsi peran. Smelter, misalnya, bisa menjadi penyedia bahan baku atau residu awal melalui skema recovery dengan insentif yang memadai. Smelter juga dapat didorong untuk melakukan pengembangan ke tahap lebih hilir jika kajian menunjukkan adanya manfaat dan keekonomian yang jelas.
“Dengan pendekatan tersebut, industri nikel tidak semata-mata dituntut untuk membangun keseluruhan rantai nilai LTJ secara mandiri. Sebaliknya, pengembangan LTJ dapat dilakukan melalui pembagian peran yang terukur, kolaboratif, dan sesuai dengan kompetensi serta kesiapan masing-masing pelaku dalam ekosistem industri,” tutur Arif.
Secara terpisah, Ketua Bidang Kajian Mineral Strategis dan Mineral Kritis PERHAPI, Muhammad Toha, menjelaskan bahwa LTJ memang ditemukan dalam jumlah kecil pada sejumlah bijih mineral. Namun, keberadaan suatu unsur dalam bijih tidak secara otomatis membuatnya layak diproduksi. Parameter keekonomian suatu mineral bersifat dinamis.
Perkembangan teknologi, harga komoditas, dan biaya operasi dapat mengubah mineral yang sebelumnya tidak bernilai menjadi komoditas strategis. Toha mencontohkan bijih nikel berkadar rendah yang tidak diminati dua dekade lalu, kini menjadi bahan baku utama industri baterai berkat kemajuan teknologi pengolahan.
“Kalau bicara keekonomian, itu bicara perspektif hari ini. Yang sekarang belum ekonomis belum tentu lima atau sepuluh tahun lagi tetap seperti itu,” kata Toha kepada Investor Daily.
Kondisi serupa berlaku pada LTJ. Saat ini, kandungannya dalam bijih nikel masih terlalu kecil untuk diolah secara ekonomis. Namun, peningkatan kebutuhan industri kendaraan listrik, energi bersih, elektronik, hingga pertahanan dapat mengubah nilai strategis LTJ di masa depan.
“LTJ bukan logam yang digunakan dalam jumlah besar seperti besi atau nikel. Tetapi pada teknologi maju, ketidakhadirannya dapat menurunkan performa produk. Karena itu banyak negara berlomba menguasai rantai pasok LTJ,” jelas Toha.
Selain memanfaatkan mineral ikutan, Perminas juga dipersiapkan untuk membangun pasokan LTJ dari sumber primer melalui proyek percontohan di Mamuju. Berbeda dengan slag timah maupun tailing nikel, proyek ini berfokus pada pengembangan endapan hasil pelapukan granit sebagai sumber daya utama LTJ.
Sukhyar menambahkan bahwa endapan granit tersebut lebih mudah diproses menggunakan teknologi hidrometalurgi. Jika proyek Mamuju berhasil, model pengembangannya diharapkan dapat diperluas ke wilayah lain yang memiliki karakteristik geologi serupa, terutama di Sumatra dan Kalimantan. “LTJ ini bisa sampai 5.000 PPM lebih. Ini lebih ekonomis diekstraksi,” ungkapnya.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.