Detak Media — Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam industri bioenergi global berkat sumber daya biomassa yang melimpah dari sektor perkebunan, pertanian, kehutanan, dan limbah perkotaan. Sumber daya seperti kelapa sawit, padi, tebu, jagung, hingga sampah organik belum dimanfaatkan secara optimal. Kementerian ESDM memperkirakan potensi pembangkit listrik berbasis biomassa mencapai 31,6 GW, bahkan kajian akademik menyebutkan potensi teknisnya bisa mendekati 57 GW jika seluruh sumber biomassa dikelola secara berkelanjutan.
Meskipun memiliki potensi besar, kontribusi biomassa terhadap bauran energi nasional masih relatif kecil. Hal ini bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena Indonesia belum membangun industri bioenergi sebagai sebuah ekosistem nasional yang terintegrasi. Program co-firing yang dijalankan PLN memang merupakan langkah penting dalam transisi energi, namun dianggap hanya sebagai tahap awal dan belum menjadi pendorong utama transformasi energi nasional.
Co-Firing: Langkah Awal yang Perlu Diperluas
Program co-firing di 47 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sepanjang 2024 telah menghasilkan sekitar 1,67 juta MWh listrik hijau, menggunakan 1,62 juta ton biomassa, dan menurunkan emisi CO₂ sekitar 1,87 juta ton. Keberhasilan ini membuktikan kelayakan teknis biomassa sebagai substitusi batubara. Namun, sebagian besar pembangkit masih menggunakan biomassa pada kisaran 5-10 persen, yang berarti lebih dari 90 persen energi masih berasal dari batubara. Jika hanya berhenti di sini, bioenergi akan menjadi pelengkap, bukan pilar utama.
Target Pemerintah dan Realisasi yang Masih Jauh
Pemerintah menargetkan implementasi co-firing pada 52 PLTU dengan kebutuhan biomassa sekitar 10,2 juta ton per tahun untuk mengurangi emisi dan meningkatkan bauran energi baru terbarukan. Namun, realisasi penggunaan biomassa pada 2024 baru mencapai sekitar 1,62 juta ton, atau sekitar 16 persen dari target jangka panjang. Proyeksi peningkatan pasokan biomassa pada tahun-tahun berikutnya, meskipun patut diapresiasi, masih menunjukkan bahwa industri biomassa nasional berada pada tahap awal pengembangan dan belum membentuk ekosistem nasional yang kuat.
Tantangan Pengembangan Biomassa di Indonesia
Beberapa tantangan utama menghambat perkembangan industri biomassa di Indonesia. Pertama, permintaan domestik belum memiliki kepastian jangka panjang karena sebagian besar pembangkit Independent Power Producer (IPP) belum memiliki kewajiban menggunakan biomassa, sehingga investor belum mendapatkan kepastian pasar. Kedua, Indonesia belum memiliki Dedicated Biomass Power Plant dalam jumlah memadai, berbeda dengan negara maju yang telah membangun pembangkit khusus biomassa.
Ketiga, rantai pasok biomassa masih mahal akibat kadar air tinggi, volume besar, dan nilai kalor lebih rendah dibanding batubara, ditambah minimnya infrastruktur pendukung seperti biomass hub dan fasilitas pengeringan. Keempat, kontrak pembelian jangka panjang yang belum cukup kuat untuk menarik investasi besar. Kelima, regulasi yang masih terfragmentasi antar kementerian dan pemerintah daerah, sehingga belum ada orkestrasi nasional yang menyatukan seluruh rantai nilai bioenergi.
Membangun Pembangkit Biomassa Murni dan Kebijakan Mandatori
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Indonesia perlu mulai membangun pembangkit biomassa murni (Dedicated Biomass Power Plant) di wilayah yang memiliki pasokan biomassa berkelanjutan, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Model ini dapat menekan biaya logistik, menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan petani, dan membangun ekonomi daerah. Selain itu, penerapan kebijakan Biomass Portfolio Standard (BPS) yang bertahap, serupa dengan kebijakan biodiesel, sangat krusial. Kebijakan ini harus didukung skema harga yang adil, kontrak jangka panjang, insentif fiskal, dan pembiayaan hijau untuk menciptakan permintaan domestik yang stabil.
Peran Strategis PLN EPI dan Potensi Ekonomi Hilir
Dalam ekosistem bioenergi, PLN Energi Primer Indonesia (EPI) dapat berperan sebagai National Biomass Aggregator, yang menghubungkan seluruh pemangku kepentingan mulai dari petani hingga pembangkit listrik. Model ini akan menciptakan skala ekonomi yang efisien dan memperkuat rantai pasok. Pengembangan biomassa juga membuka peluang industrialisasi nasional yang mampu mendorong tumbuhnya industri hilir seperti pellet, biochar, bio-CNG, pupuk organik, hingga Sustainable Aviation Fuel (SAF), yang berdampak pada berbagai sektor mulai dari pertanian hingga manufaktur.
Visi Indonesia sebagai “Saudi Arabia of Biomass”
Indonesia berpeluang menjadi pusat bioenergi terbesar di Asia, bahkan kekuatan bioenergi dunia, dengan potensi menjadi “Saudi Arabia of Biomass”. Hal ini tidak hanya karena kekayaan sumber daya, tetapi juga kemampuan membangun industri terintegrasi dari hulu ke hilir. Visi ini menuntut Indonesia untuk tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah biomassa, tetapi menjadi pusat perdagangan bioenergi, industri biomassa, perdagangan karbon, dan produksi biofuel generasi kedua.
Roadmap Bioenergi Indonesia 2045
Untuk mewujudkan visi tersebut, delapan agenda strategis nasional diusulkan: menyusun roadmap lintas kementerian 2026-2045 dengan target terukur; menerapkan BPS secara bertahap; mengembangkan Dedicated Biomass Power Plant; membangun Biomass Hub nasional; menjadikan PLN EPI sebagai National Biomass Aggregator; memberikan insentif fiskal, pembiayaan hijau, dan kontrak jangka panjang; mengembangkan industri hilir; serta menetapkan standar keberlanjutan dan ketertelusuran.
Bioenergi lebih dari sekadar instrumen transisi energi; ia adalah peluang untuk membangun industri baru, meningkatkan kesejahteraan petani, menciptakan lapangan kerja hijau, memperkuat ketahanan energi, dan mengangkat posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Dengan kebijakan yang konsisten, kolaborasi erat, dan sumber daya yang melimpah, Indonesia dapat menjadikan biomassa sebagai energi strategis penggerak ekonomi nasional.
*) Ketua Umum DPP Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO) Komisaris PT PLN Energi Primer Indonesia
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.