— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan pada sesi pertama perdagangan Selasa, 4 Agustus 2026. Indeks acuan ini berhasil naik 35,66 poin atau 0,57% ke level 6.270. Penguatan ini didorong oleh sentimen positif dari pasar global dan fundamental ekonomi domestik yang stabil.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan bahwa penguatan IHSG sejalan dengan reli bursa saham Asia yang turut mengikuti tren positif Wall Street. Pelaku pasar merespons positif membaiknya aktivitas manufaktur di Amerika Serikat. Indeks ISM Manufacturing tercatat naik menjadi 55,6 dari sebelumnya 53,3, menandai laju kenaikan tercepat dalam lebih dari empat tahun terakhir.

“Data tersebut mencerminkan meningkatnya permintaan dan aktivitas produksi yang berpotensi menopang pasar tenaga kerja AS,” tulis Pilarmas dalam risetnya pada Selasa (4/6/2026). Hal ini menunjukkan adanya potensi positif bagi pasar tenaga kerja di Amerika Serikat.

Di sisi lain, Pilarmas juga mencatat bahwa pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz sedang berlangsung. Namun, pihak Iran membantah adanya negosiasi tersebut.

Meskipun demikian, pasar memperoleh sentimen positif setelah pertemuan antara Iran dan Oman dilaporkan menunjukkan kemajuan dalam upaya meningkatkan kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz. Hal ini memberikan sedikit kelegaan di tengah ketegangan geopolitik.

Sentimen Domestik Mendorong Penguatan

Dari dalam negeri, Pilarmas menilai penguatan IHSG juga didukung oleh inflasi yang tetap terkendali. Inflasi tahunan Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,88%, angka ini masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia yaitu 2,5% ±1%. Kondisi ini mencerminkan konsistensi kebijakan moneter serta sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pemerintah.

Selain itu, neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 masih mencatat defisit sebesar US$ 450 juta. Angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan defisit bulan sebelumnya yang mencapai US$ 1,61 miliar. Secara kumulatif, neraca perdagangan periode Januari–Juni 2026 masih membukukan surplus sebesar US$ 3,58 miliar, memberikan optimisme terhadap ketahanan sektor eksternal Indonesia.

“Pasar juga mulai menanti rilis data produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026 yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (5/8/2026),” papar Pilarmas. Pengumuman data PDB ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih lanjut mengenai kondisi ekonomi Indonesia.

Pada sesi pertama perdagangan, saham-saham yang mencatat kenaikan terbesar meliputi ENZO, NIRO, PRDL, MPRO, dan BRNA. Sementara itu, saham dengan pelemahan terdalam ditempati oleh BACH, TMPO, MAPB, SOSS, dan FORU.

Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan buy untuk saham CBDK dengan area support di 3.620 dan area resistance di 4.390.