— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan tipis pada sesi pertama perdagangan Senin (3/8/2026), ditutup turun 1,83 poin atau 0,03% ke level 6.234. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang menekan pergerakan pasar.

Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa tekanan pasar global terutama berasal dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan membuka peluang negosiasi, pelaku pasar masih meragukan tercapainya kesepakatan damai yang permanen.

“Trump juga tidak memberikan kepastian mengenai tenggat waktu perundingan dengan Iran, sehingga kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz masih membayangi pasar,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Senin (3/8/2026).

Sentimen negatif global lainnya datang dari China, di mana aktivitas manufaktur menunjukkan perlambatan. Survei swasta mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur turun menjadi 50,9 pada Juli dari 51,7 pada Juni, berada di bawah ekspektasi pasar. Data resmi bahkan menunjukkan PMI manufaktur turun ke 49,2, menandai kontraksi pertama sejak Februari. Meskipun demikian, People’s Bank of China (PBOC) menegaskan akan mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif guna menopang pertumbuhan ekonomi.

Pilarmas menambahkan, tekanan juga datang dari sektor teknologi global, terutama saham-saham semikonduktor yang kembali terkoreksi akibat kekhawatiran terhadap keberlanjutan tren investasi kecerdasan buatan (AI).

Dari dalam negeri, Pilarmas mengatakan, sejumlah data ekonomi memberikan sinyal yang beragam. Indeks Manufaktur Indonesia naik menjadi 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni, menandakan sektor manufaktur kembali memasuki fase ekspansi.

“Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perlambatan pertumbuhan akibat tingginya harga bahan baku, melemahnya ekspor, serta sikap hati-hati dunia usaha,” jelas Pilarmas.

Sementara itu, Pilarmas menyebutkan, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mengalami deflasi 0,14% secara bulanan pada Juli 2026. Secara tahunan, inflasi tercatat 2,88%, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 3,2% dan masih berada dalam target Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%.

Selain itu, Pilarmas mengatakan, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar US$ 450 juta, yang turut menjadi sentimen negatif bagi pergerakan pasar.

Pada sesi pertama perdagangan, saham yang mencatat kenaikan terbesar adalah JKON, IATA, TRUK, KDTN, dan TALF. Sementara itu, saham dengan pelemahan terdalam yakni BTEK, MIRA, OPMS, INDS, dan MTLA.

Untuk perdagangan sesi II, Pilarmas merekomendasikan beli saham TLKM dengan area support di 2.580 dan resistance di 2.910.