Detak Media — Sebanyak 70 dari 93 kota di Indonesia masih menghadapi status fiskal yang lemah, berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri 2025. Kondisi ini menjadi tantangan serius dalam pembiayaan pembangunan perkotaan. Menyadari hal tersebut, Yayasan Indonesia City Investment Accelerator (ICIA) hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut dengan mempercepat kesiapan proyek agar lebih mudah menarik minat investor.
Situasi ini terjadi di tengah laju urbanisasi yang terus meningkat pesat. Diperkirakan pada tahun 2045, sekitar tiga dari empat penduduk Indonesia akan tinggal di kawasan perkotaan. Kota-kota besar tidak hanya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga menghadapi peningkatan kebutuhan layanan dasar yang signifikan, mulai dari penyediaan air bersih, sanitasi, transportasi, hingga pengendalian banjir.
Namun, kapasitas fiskal pemerintah daerah saat ini dinilai belum mampu mengimbangi kebutuhan yang terus membengkak. Kontribusi transfer dari pemerintah pusat masih mendominasi sekitar 70% hingga 80% dari total anggaran daerah, dan sebagian besar alokasi dana tersebut telah tersedot untuk mendukung prioritas nasional. Sementara itu, kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) masih berada di bawah 10% dan hampir seluruhnya terpakai untuk belanja operasional.
Meskipun regulasi telah memungkinkan adanya pinjaman daerah dan obligasi daerah, implementasinya masih terhambat oleh berbagai kendala. Proses persetujuan yang berlapis, batas utang yang ketat, serta terbatasnya aset daerah yang dapat dijadikan dasar pembiayaan menjadi hambatan utama.
Keterbatasan fiskal ini semakin diperparah oleh rendahnya kesiapan proyek pembangunan perkotaan. Banyak proyek yang belum memiliki struktur pembiayaan yang matang, penilaian risiko yang memadai, maupun kesiapan kelembagaan yang kuat. Akibatnya, proyek-proyek tersebut sulit menarik minat investor, meskipun kebutuhan pembiayaan dan ketersediaan modal sebenarnya cukup besar.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ICIA, sebagai lembaga nirlaba, memfokuskan diri pada percepatan investasi perkotaan. ICIA berkomitmen membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas persiapan proyek, menjalankan proyek percontohan (pilot project) dan validasi, serta memperkuat kapasitas kelembagaan dan koordinasi antar pemangku kepentingan.
Ketua Pembina ICIA, Sofyan A. Djalil, menyatakan bahwa lembaganya menargetkan semakin banyak proyek yang memenuhi standar pembiayaan. Tujuannya adalah agar proses memperoleh pendanaan dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.
“Persoalan pembangunan perkotaan kita jarang terletak pada ketiadaan gagasan atau ketiadaan dana. Yang paling sering hilang adalah jembatan antara keduanya, dan jembatan itulah yang akan dibangun ICIA,” ujar Sofyan dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).
Sebagai langkah awal, ICIA menjalin kerja sama strategis dengan Fundación Metrópoli. Lembaga nirlaba asal Spanyol ini memiliki rekam jejak panjang di bidang perencanaan dan pengembangan perkotaan sejak 1987, dengan pengalaman menggarap berbagai proyek di lima benua.
Fundación Metrópoli didirikan oleh Alfonso Vegara, seorang arsitek dan doktor perencanaan kota. Pengalamannya termasuk memimpin International Society of City and Regional Planners (ISOCARP) serta menjadi penasihat bagi sejumlah pemerintah, termasuk Singapura. Alfonso sendiri telah aktif berkontribusi di Indonesia sejak 2018, sehingga dinilai memiliki pemahaman mendalam mengenai karakteristik pembangunan perkotaan dan kelembagaan di Tanah Air.
Penandatanganan nota kesepahaman antara ICIA dan Fundación Metrópoli dilakukan di Urban Knowledge Hub, Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan, menandai dimulainya kolaborasi kedua lembaga.
Alfonso Vegara menilai bahwa kesamaan visi antara ICIA dan Fundación Metrópoli membuka peluang kolaborasi yang luas. Kolaborasi ini akan mencakup transfer pengetahuan, penerapan praktik terbaik, serta penguatan kapasitas pemerintah daerah.
“Di banyak negara kami menyaksikan rencana perkotaan yang baik gagal memperoleh pembiayaan karena tidak ada lembaga yang mengawal persiapannya. Kehadiran ICIA menjawab kebutuhan yang sangat nyata, dan kami senang dapat bekerja bersamanya sejak awal,” ujar Alfonso Vegara.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.