Detak Media — Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) bersama Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) sukses menggelar Indonesia Hydropower Summit 2026. Forum ini bertujuan memperkuat kolaborasi dalam mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebagai pilar keandalan sistem kelistrikan dan mendukung transisi energi Indonesia menuju Net Zero Emission 2060.
Plt. Ketua Umum METI, Norman Ginting, menekankan pentingnya pemanfaatan potensi energi air Indonesia yang sangat besar. Menurutnya, PLTA memiliki keunggulan sebagai sumber energi bersih yang andal dan mampu menopang stabilitas sistem kelistrikan, menjadikannya pasangan ideal untuk pembangkit surya dan angin. Ia berharap forum ini menghasilkan rekomendasi konkret dan memperluas kolaborasi lintas sektor.
Norman Ginting menambahkan bahwa percepatan pembangunan hydropower membutuhkan kepastian regulasi, peningkatan kesiapan proyek, dukungan pembiayaan, penguatan riset dan inovasi, serta komitmen seluruh pemangku kepentingan. “METI akan terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pengembangan energi terbarukan di Indonesia,” ujarnya.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero), Suroso Isnandar, memaparkan bahwa hydropower akan menjadi salah satu pilar utama transformasi sistem kelistrikan nasional. Berdasarkan RUPTL PLN 2025–2034, sekitar 76% penambahan kapasitas pembangkit berasal dari energi baru terbarukan. Pembangkit hidro direncanakan berkontribusi sebesar 11,7 GW, didukung oleh sistem penyimpanan energi.
Suroso menjelaskan keunggulan strategis PLTA, termasuk kemampuan beroperasi sebagai base load dengan faktor kapasitas tinggi dan emisi karbon rendah. Hingga pertengahan tahun 2026, PLN telah mengeksekusi sekitar 10,6 GW proyek hydropower. PLN juga memperkenalkan inisiatif GIGA ONE Hydro untuk percepatan pengembangan proyek hydropower sekitar 7 GW di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Pembangunan Pumped Storage Hydropower diposisikan sebagai teknologi strategis untuk menjaga fleksibilitas sistem, menyediakan cadangan daya, dan mendukung integrasi pembangkit listrik tenaga surya serta angin.
Kementerian Pekerjaan Umum menegaskan bahwa keberhasilan transisi energi nasional bergantung pada pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi. Infrastruktur bendungan dan waduk tidak hanya berfungsi untuk irigasi dan pengendalian banjir, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan PLTA dan pumped storage.
Kementerian Pekerjaan Umum juga menyoroti pentingnya meningkatkan kesiapan proyek melalui penyediaan data hidrologi yang akurat, sinkronisasi tata ruang, kepastian lahan, kesiapan jaringan transmisi, penguatan aspek lingkungan dan sosial, serta penyusunan skema pembiayaan yang bankable. Kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, PLN, investor, dan lembaga pembiayaan menjadi kunci utama.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menekankan perlunya dukungan ekosistem riset nasional yang kuat untuk percepatan pengembangan hydropower. Perguruan tinggi diharapkan menjadi pusat inovasi, menghasilkan sumber daya manusia unggul, dan memperkuat kolaborasi dengan industri serta pemerintah.
Para pemangku kepentingan berkomitmen memperkuat sinergi nasional untuk mempercepat pemanfaatan potensi tenaga air Indonesia yang diperkirakan mencapai lebih dari 95 GW. Hal ini diharapkan dapat mendorong ketahanan energi, target bauran energi nasional, dan visi Net Zero Emission Indonesia 2060.
Acara yang diselenggarakan di Auditorium PT PLN (Persero), Jakarta, dihadiri sejumlah tokoh nasional, termasuk President Director PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, serta Wakil Menteri Investasi Todotua Pasaribu.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.