— Harga emas dunia anjlok parah pada perdagangan Kamis (23/7/2026), berbalik dari level tertinggi dalam dua pekan sehari sebelumnya. Pelemahan signifikan ini disebabkan oleh lonjakan harga minyak mentah akibat memanasnya konflik di Timur Tengah. Situasi ini memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Harga emas spot tercatat ditutup anjlok 1,95% menjadi US$ 4.049,56 per ons troi. Angka ini merupakan pembalikan tajam dari penutupan sehari sebelumnya yang sempat menyentuh level tertinggi sejak 7 Juli. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga mengalami penurunan drastis, ditutup ambles sekitar 2,4% ke level US$ 4.052,4 per ons troi.

Tekanan terhadap emas juga datang dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Indeks dolar dilaporkan naik sekitar 0,3%, yang secara otomatis membuat emas, yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut, menjadi lebih mahal bagi pembeli internasional. Bersamaan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.

Analis Pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah secara langsung mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. Hal ini terjadi karena pasar meyakini The Fed akan menghadapi kesulitan dalam menurunkan suku bunga di tengah risiko inflasi yang kembali meningkat. “Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi menjadi musuh utama emas dan perak karena kedua logam tersebut tidak memberikan imbal hasil,” ujar Wyckoff.

Lonjakan harga minyak mentah terjadi setelah harga minyak Brent berhasil menembus US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei. Kenaikan ini dipicu oleh pernyataan kelompok Houthi di Yaman yang mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi. Insiden tersebut menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya gangguan pasokan minyak global yang meluas dari kawasan strategis Selat Hormuz.

Fokus The Fed

Kondisi harga minyak yang tetap tinggi memperkuat pandangan bahwa suku bunga The Fed akan dipertahankan pada level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. Situasi ini secara signifikan mengurangi daya tarik emas sebagai aset investasi karena tidak memberikan bunga atau imbal hasil.

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian mereka pada hasil rapat kebijakan moneter bank sentral AS yang dijadwalkan pekan depan, serta pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan. Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September meningkat menjadi sekitar 83%, naik dari 68% pada hari sebelumnya.

Wyckoff menambahkan bahwa pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan, namun tetap memberikan sinyal yang cenderung hawkish. Meskipun demikian, perubahan sikap yang lebih dovish atau lebih agresif dari perkiraan pasar diperkirakan akan memicu pergerakan tajam di pasar keuangan global.

Melemahnya harga emas tidak hanya terjadi pada logam mulia ini. Logam mulia lainnya juga mengalami penurunan. Harga perak spot ambles 3,46% menjadi US$ 57,65 per ons, sementara platinum ambrol 2,89% ke US$ 1.597,05 per ons. Paladium juga tidak luput dari pelemahan, jatuh 2,89% menjadi US$ 1.597,05 per ons.