— Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup dengan kenaikan signifikan pada perdagangan Selasa, 4 Juli 2026. Lonjakan ini terutama didorong oleh menguatnya harga minyak nabati pesaing, yang secara positif memengaruhi sentimen pasar terhadap CPO.

Kontrak CPO untuk pengiriman Agustus 2026 terpantau melesat 63 ringgit Malaysia, mencapai 4.551 ringgit Malaysia per ton. Kontrak September 2026 juga mencatat lonjakan serupa, bertambah 63 ringgit Malaysia menjadi 4.652 ringgit Malaysia per ton. Kenaikan berlanjut pada kontrak Oktober 2026 yang melejit 67 ringgit Malaysia menjadi 4.696 ringgit Malaysia per ton, diikuti kontrak November 2026 yang terkerek 69 ringgit Malaysia ke angka 4.733 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Desember 2026 meningkat 67 ringgit Malaysia menjadi 4.764 ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Januari 2027 naik 67 ringgit Malaysia menjadi 4.794 ringgit Malaysia per ton.

Seorang trader di Kuala Lumpur mengonfirmasi bahwa kenaikan harga ini sejalan dengan penguatan harga minyak kedelai dan minyak nabati lainnya. Hal ini terlihat dari pergerakan di bursa komoditas global. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai paling aktif mengalami kenaikan 0,32%, sementara kontrak minyak sawit bertambah 0,23%. Di Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai menguat 0,56%. Kenaikan harga CPO secara umum bergerak searah dengan minyak nabati pesaing karena keduanya bersaing di pasar minyak nabati global.

Di sisi lain, pelemahan tipis nilai tukar ringgit terhadap dolar AS sebesar 0,02% membuat CPO Malaysia menjadi sedikit lebih terjangkau bagi pembeli internasional. Namun, potensi kenaikan harga lebih lanjut diperkirakan masih akan dibatasi oleh tren peningkatan pasokan.

Survei yang dilakukan Reuters mengindikasikan bahwa persediaan CPO Malaysia pada bulan Juli diproyeksikan meningkat ke level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan produksi yang diperkirakan melampaui laju permintaan. Data dari Badan Pusat Statistik Indonesia juga menunjukkan bahwa ekspor CPO mentah dan olahan Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai 11,28 juta ton, yang berarti ada kenaikan sebesar 2,5% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.