Detak Media — Harga kontrak minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) menunjukkan tren penguatan pada penutupan perdagangan Kamis (30/7/2026). Penguatan ini terutama ditopang oleh prospek peningkatan ekspor dan permintaan yang stabil dari India.
Namun, penguatan harga tidak sepenuhnya mulus. Kenaikan nilai tukar Ringgit Malaysia dan pelemahan harga minyak nabati pesaing di bursa Dalian, Tiongkok, serta Chicago, Amerika Serikat, turut membatasi laju apresiasi harga CPO.
Berdasarkan data BMD, kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Agustus 2026 tercatat melemah tipis sebesar 3 Ringgit Malaysia, menjadi 4.554 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak untuk September 2026 mengalami kenaikan 15 Ringgit Malaysia, mencapai 4.643 Ringgit Malaysia per ton.
Selanjutnya, kontrak berjangka CPO Oktober 2026 terkerek naik 19 Ringgit Malaysia menjadi 4.683 Ringgit Malaysia per ton. Tren kenaikan berlanjut pada kontrak November 2026 yang meningkat 19 Ringgit Malaysia menjadi 4.714 Ringgit Malaysia per ton, serta kontrak Desember 2026 yang melesat 19 Ringgit Malaysia ke posisi 4.743 Ringgit Malaysia per ton.
Untuk kontrak berjangka CPO Januari 2027, tercatat menguat 17 Ringgit Malaysia, ditutup pada angka 4.770 Ringgit Malaysia per ton.
Harga minyak sawit Malaysia sebelumnya sempat turun mendekati 4.650 Ringgit Malaysia per ton. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan nilai tukar Ringgit dan melemahnya harga minyak nabati pesaing. Selain itu, harga minyak mentah yang juga melemah karena lalu lintas kapal tanker di Timur Tengah yang tetap lancar meski ada ketegangan geopolitik, turut mengurangi dukungan terhadap pasar minyak nabati.
Di sisi lain, data menunjukkan impor minyak sawit Uni Eropa pada tahun pemasaran 2026/2027, yang dimulai Juli, mengalami penurunan signifikan sebesar 39% secara tahunan (year on year/yoy).
Peningkatan Ekspor dan Permintaan India
Meskipun ada beberapa faktor yang menekan, pelemahan harga minyak sawit berhasil tertahan oleh peningkatan volume ekspor. Data dari perusahaan survei kargo menunjukkan pengiriman minyak sawit selama periode 1–25 Juli mengalami kenaikan antara 8,1% hingga 15,9% dibandingkan periode yang sama pada Juni.
Permintaan juga mendapat dorongan dari ekspektasi peningkatan impor minyak sawit oleh India, yang merupakan pembeli terbesar dunia. Peningkatan ini diperkirakan terjadi pada periode Juli hingga Oktober, menjelang musim perayaan di negara tersebut.
Di Indonesia, produsen minyak sawit terbesar di dunia, pemerintah telah menaikkan alokasi biodiesel berbasis minyak sawit untuk tahun 2026. Alokasi tersebut ditingkatkan menjadi 16,75 juta kiloliter untuk mengakomodasi permintaan tambahan yang timbul dari implementasi program B50 yang mulai berlaku awal bulan ini.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.