— Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (31/7/2026). Pelemahan ini mengakhiri reli selama tiga pekan, namun harga CPO tetap membukukan kenaikan bulanan pertama dalam empat bulan terakhir.

Kenaikan bulanan tersebut ditopang oleh prospek ekspor yang cerah, lonjakan harga minyak mentah global, serta peningkatan permintaan dari India. Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman Agustus 2026 turun 23 ringgit Malaysia menjadi 4.531 ringgit Malaysia per ton. Kontrak September 2026 melemah 39 ringgit Malaysia menjadi 4.604 ringgit Malaysia per ton.

Lebih lanjut, kontrak Oktober 2026 turun 40 ringgit Malaysia menjadi 4.643 ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak November 2026 terkoreksi 39 ringgit Malaysia menjadi 4.675 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Desember 2026 juga melemah 39 ringgit Malaysia menjadi 4.704 ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Januari 2027 turun 38 ringgit Malaysia menjadi 4.732 ringgit Malaysia per ton.

Pelemahan harga CPO pada akhir pekan ini dipicu oleh penurunan harga minyak nabati di Bursa Dalian, China, dan Bursa Chicago. Pergerakan harga yang lebih rendah di pasar komoditas tersebut turut menekan sentimen pasar terhadap CPO.

Secara mingguan, kontrak acuan CPO diperkirakan mengalami penurunan sekitar 1,7%, yang menandai akhir dari reli selama tiga pekan berturut-turut. Tekanan tambahan datang dari keputusan Indonesia yang menurunkan harga referensi CPO untuk Agustus menjadi US$ 996,52 per ton, turun dari US$ 1.000,90 per ton pada Juli.

Kenaikan Bulanan yang Signifikan

Meskipun mengalami pelemahan pada akhir pekan, harga CPO secara keseluruhan mencatat kenaikan sekitar 2% sepanjang bulan Juli. Pencapaian ini merupakan kenaikan bulanan pertama setelah empat bulan beruntun mengalami pelemahan.

Faktor utama di balik kenaikan bulan ini adalah lonjakan harga minyak mentah global yang mencapai sekitar 20% selama Juli. Kenaikan harga minyak mentah ini secara signifikan meningkatkan daya saing biodiesel yang berbasis sawit, menjadikannya pilihan yang lebih menarik dibandingkan sumber energi lain.

Selain itu, permintaan ekspor untuk CPO tetap menunjukkan performa yang solid. Data dari perusahaan survei kargo mengindikasikan bahwa ekspor CPO Malaysia pada periode 1–25 Juli meningkat antara 8,1% hingga 15,9% dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan Juni.

Sentimen positif lainnya juga berasal dari kebijakan pemerintah Indonesia dan Malaysia yang meningkatkan mandatori pencampuran biodiesel sawit dalam bahan bakar. Potensi gangguan cuaca yang dapat memengaruhi produksi CPO Malaysia pada tahun depan, serta prospek peningkatan impor dari India menjelang musim perayaan yang jatuh antara Juli hingga Oktober, juga menjadi pendukung harga.

Para pelaku pasar menilai bahwa kombinasi dari berbagai faktor tersebut masih berpotensi menopang harga CPO dalam jangka pendek. Meskipun demikian, tekanan dari minyak nabati pesaing belum sepenuhnya mereda dan perlu terus diwaspadai.