Detak.media — Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami pelemahan pada Jumat (17/7/2026), memutus tren penguatan sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya harga minyak nabati di Bursa Dalian, China.
Pada penutupan perdagangan Jumat, kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Agustus 2026 tercatat melemah 8 Ringgit Malaysia menjadi 4.529 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak September 2026 turun 9 Ringgit Malaysia ke 4.565 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Oktober 2026 terkoreksi 9 Ringgit Malaysia menjadi 4.597 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak November 2026 terpangkas 7 Ringgit Malaysia ke 4.630 Ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Desember 2026 jatuh 5 Ringgit Malaysia ke 4.663 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Januari 2027 juga melemah 4 Ringgit Malaysia menjadi 4.697 Ringgit Malaysia per ton.
Kekhawatiran terhadap permintaan global turut membebani sentimen pasar. Impor minyak sawit India, salah satu pembeli terbesar dunia, dilaporkan turun ke level terendah dalam 14 bulan pada Juni. Hal ini disebabkan oleh menyempitnya selisih harga (diskon) dengan minyak nabati pesaing, yang mengurangi minat pembelian dari negara tersebut.
Selain itu, kondisi ekonomi China yang tumbuh pada laju paling lambat sejak akhir 2022 pada kuartal II juga memunculkan kekhawatiran terhadap prospek permintaan dari negara importir utama lainnya.
Catatan Kenaikan Mingguan
Meskipun mengalami koreksi harian, kontrak CPO secara keseluruhan masih berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan pertama dalam empat pekan terakhir, dengan penguatan sekitar 1,7%. Kenaikan ini didukung oleh prospek ekspor yang membaik.
Data dari lembaga survei kargo menunjukkan bahwa ekspor minyak sawit Malaysia pada periode 1–15 Juli meningkat antara 4% hingga 12,4% dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan Juni.
Pemerintah Malaysia sendiri telah menaikkan harga referensi minyak sawit mentah (CPO) untuk Agustus, namun tetap mempertahankan bea keluar (export duty) sebesar 10%.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia yang masih bertahan tinggi, terutama akibat terbatasnya arus pengiriman melalui Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, turut menopang harga minyak sawit. Kondisi ini berpotensi meningkatkan permintaan biodiesel.
Ikuti Detak.media
