Detak.media — Pasar global menunjukkan ketenangan yang mencolok, seolah mengabaikan potensi dampak negatif dari kebijakan ekonomi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ketegangan yang kembali memanas di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan vital dunia, mempertegas kerentanan ekonomi global terhadap krisis pasokan dan ancaman stagflasi. Prospek perdamaian antara AS dan Iran kini terasa semakin jauh.
Perang tarif dan penggunaan sektor perdagangan serta keuangan sebagai “senjata” oleh Trump terus mengikis efisiensi ekonomi global yang telah dibangun melalui globalisasi. Pendekatan kebijakan yang tidak konsisten telah meningkatkan ketidakpastian ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan kerusakan pada tatanan kerja sama pasca-Perang Dunia II yang sulit dihitung nilainya.
Pembelaan Pendukung Trump dan Euforia AI
Para pendukung Trump menilai bahwa dampak kerusakan ekonomi yang ditimbulkan terlalu dibesar-besarkan. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tetap stabil, bahkan di tengah gangguan pasar minyak terbesar dalam beberapa dekade. Hambatan perdagangan yang terjadi ternyata lebih ringan dari perkiraan karena perusahaan mengalihkan jalur perdagangan dan rela memotong margin keuntungan.
Selain itu, kebangkitan China menjadi tantangan strategis yang membuat taktik peningkatan tarif perdagangan dianggap lebih penting daripada sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi. Fenomena ledakan investasi kecerdasan buatan (AI) di AS juga menciptakan euforia pasar yang luar biasa, menunjukkan ketangguhan sektor korporasi AS dalam menghadapi gejolak politik.
Sinyal Bahaya di Balik Ketenangan
Namun, ketenangan pasar ini terjadi di tengah kebijakan moneter dan fiskal yang sangat longgar. Bank Sentral AS (The Federal Reserve) gagal mencapai target inflasi, sementara defisit anggaran AS melonjak signifikan. Utang publik Amerika Serikat pun meroket ke level yang belum pernah terlihat sejak akhir Perang Dunia II, memaksa ekonomi AS berjalan “terlalu panas” tanpa peluang pengurangan utang dalam waktu dekat.
Bank for International Settlements (BIS) mengingatkan bahwa investasi teknologi yang besar seringkali menarik modal lebih banyak daripada keuntungan komersial yang bisa dihasilkan, seperti yang terjadi pada demam investasi di masa lalu. Pola ledakan investasi AI saat ini dinilai sangat mirip dengan sejarah kelam tersebut, yang berpotensi memicu resesi ekonomi luas.
Tanda-tanda keretakan mulai terlihat di pasar obligasi melalui fenomena “Trump discount”, di mana suku bunga obligasi pemerintah AS jangka panjang terus merangkak naik, namun imbal hasil (yield) belum sepenuhnya memperhitungkan risiko inflasi di masa depan.
Jebakan Utang dan Tekanan pada Bank Sentral
Dunia kini menghadapi pembalikan arus kebutuhan dana yang besar untuk populasi lansia, peningkatan anggaran pertahanan, dan lonjakan biaya akibat perubahan iklim. Di sisi lain, The Fed berada dalam posisi sulit karena pembiayaan utang pemerintah AS sangat bergantung pada surat utang jangka pendek.
Jika The Fed menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi, biaya pembayaran utang pemerintah akan langsung membengkak. Hal ini menciptakan risiko “fiscal dominance”, di mana pemerintah dapat memaksa bank sentral mencetak uang untuk membiayai defisit. Ditambah lagi masalah stabilitas keuangan karena utang jangka pendek ini banyak dipegang oleh perusahaan investasi spekulatif.
Dengan kebijakan moneter dan fiskal AS yang terus dipompa dan kondisi keuangan yang tampak longgar, terlalu dini untuk memprediksi kapan pasar akan lumpuh total. Namun, ketegangan di Teluk Persia terus menghantui dan kesabaran pasar obligasi lambat laun akan habis. Prediksi kuat menunjukkan titik kritis atau kehancuran pasar ini akan terjadi dalam waktu 12 bulan ke depan.
Kebijakan ekonomi Donald Trump yang dikenal dengan doktrin “America First” secara konsisten menerapkan nasionalisme ekonomi agresif. Pemotongan pajak korporasi besar-besaran dan tarif impor tinggi bertujuan melindungi industri dalam negeri AS. Namun, kebijakan ini justru memperlebar jurang defisit anggaran negara dan mengganggu rantai pasok dunia yang efisien berkat globalisasi.
Ketika Trump kembali mengintervensi stabilitas geopolitik, seperti di Selat Hormuz, ketidakpastian kebijakan meningkat dan biaya produksi global otomatis naik. Pasar keuangan global saat ini terjebak di antara ilusi pertumbuhan ekonomi akibat euforia teknologi AI dan bom waktu utang yang siap meledak akibat kebijakan ekonomi AS yang tidak berkelanjutan.
Ikuti Detak.media
