Detak.media — Komando Pusat Militer Amerika Serikat (AS) atau CENTCOM mengumumkan telah mengakhiri operasi serangan selama tujuh malam berturut-turut terhadap sejumlah target di Iran. Meskipun operasi serangan udara dan laut telah dihentikan, AS menegaskan akan tetap mempertahankan tekanan militer dan blokade laut terhadap Iran di tengah ketegangan yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Menurut pernyataan CENTCOM yang diunggah melalui platform media sosial X, operasi terakhir berakhir pada Jumat (17/7/2026) pukul 21.30 waktu Amerika Timur atau Sabtu (18/7/2026) pukul 08.30 WIB. Rangkaian serangan tersebut dilaporkan menyasar berbagai fasilitas strategis milik Iran, termasuk lokasi pengawasan militer, infrastruktur logistik, gudang penyimpanan senjata bawah tanah, serta kemampuan maritim negara tersebut.
Operasi militer ini melibatkan berbagai aset pertahanan Amerika Serikat, seperti pesawat tempur, drone, kapal perang, dan berbagai aset militer lainnya. “CENTCOM terus menjalankan arahan Presiden Donald Trump untuk meminta pertanggungjawaban Iran,” demikian bunyi pernyataan resmi komando militer tersebut.
Selain melancarkan operasi udara dan laut, AS juga menegaskan tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini merupakan bagian dari strategi AS untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran. CENTCOM juga menyampaikan bahwa lebih dari 50.000 personel militer AS saat ini masih ditempatkan di berbagai wilayah Timur Tengah dan berada dalam kondisi siaga penuh untuk menghadapi berbagai kemungkinan eskalasi konflik.
Operasi militer terbaru ini merupakan kelanjutan dari kebijakan yang diumumkan pemerintah AS pada Selasa (14/7/2026), ketika pemerintah AS menyatakan kembali menerapkan blokade laut terhadap kapal-kapal yang berlayar menuju atau keluar dari pelabuhan dan kawasan pesisir Iran. Ketegangan antara AS dan Iran dalam beberapa pekan terakhir terus meningkat, terutama terkait situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.
Meskipun sebelumnya kedua negara telah menyepakati nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk menghentikan konflik dan membuka jalan menuju perdamaian yang lebih berkelanjutan, situasi di lapangan masih diwarnai aksi saling serang yang memperburuk hubungan kedua negara. Hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa ketegangan antara AS dan Iran akan mereda sepenuhnya. Keberlanjutan blokade laut dan kesiagaan militer AS menunjukkan kawasan Timur Tengah masih menghadapi risiko eskalasi yang dapat memengaruhi stabilitas regional maupun pasar energi global.
Ikuti Detak.media
