Detak Media — Industri taman rekreasi dan wisata keluarga dinilai memiliki potensi besar untuk menopang pertumbuhan pariwisata Indonesia. Peningkatan minat wisatawan terhadap perjalanan berbasis pengalaman menjadi salah satu faktor utamanya. Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) RI, Ni Luh Puspa, menyatakan bahwa wisatawan kini tidak hanya mencari destinasi, tetapi juga pengalaman yang aman, interaktif, dan berkesan.
“Objek wisata kini bukan lagi sekadar pelengkap sebuah destinasi, tetapi telah menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan wisatawan untuk datang, tinggal lebih lama, dan membelanjakan lebih banyak uangnya,” ujar Ni Luh saat membuka “The 6th Fun Asia Expo Indonesia 2026” di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Rabu (5/8/2026).
Menurut Ni Luh, perubahan preferensi wisatawan ini membuka peluang bagi pengembangan taman rekreasi, museum, pusat hiburan keluarga, dan destinasi wisata edukatif. Kehadiran atraksi semacam ini dinilai dapat memperkuat daya saing destinasi sekaligus memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat.
Sektor pariwisata Indonesia dilaporkan masih mencatat pertumbuhan di tengah ketidakpastian geopolitik global. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,45 juta, naik 5,71% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara tercatat sebanyak 630,41 juta atau tumbuh 2,71%.
“Ini menunjukkan permintaan terhadap pariwisata Indonesia terus meningkat. Peluang tersebut harus dijawab dengan menghadirkan destinasi yang inovatif, berkualitas, aman, dan ramah keluarga,” tegas Ni Luh.
Lebih dari 60% wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia mayoritas berasal dari kawasan Asia. Oleh karena itu, pemerintah terus memperkuat promosi pariwisata ke pasar Asia dan Oseania sebagai adaptasi terhadap perkembangan kondisi global.
Ni Luh menambahkan, pengembangan atraksi menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mendorong pariwisata berkualitas. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan, tetapi juga pada peningkatan lama tinggal, belanja wisatawan, kualitas pengalaman, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pemerintah juga membuka peluang investasi dalam pengembangan taman rekreasi, taman hiburan, museum, pusat edukasi, serta destinasi wisata buatan lainnya. Namun, pembangunan atraksi wisata harus tetap memperhatikan aspek keselamatan, keberlanjutan, aksesibilitas, dan inklusivitas.
Direktur Utama PT Fun International, Rachmat Sutiono, menjelaskan bahwa Fun Asia pertama kali digelar pada 1997 dengan tujuan memperluas industri rekreasi nasional yang saat itu masih tergolong kecil. Pameran ini diharapkan dapat mendorong pelaku usaha untuk tidak hanya bersaing dalam pasar yang terbatas.
Fun Asia Expo kini telah memasuki penyelenggaraan keenam. Pameran ini sempat terhenti akibat krisis ekonomi 1998 dan pandemi Covid-19, namun kembali digelar secara rutin setiap dua tahun.
Rachmat menilai potensi industri rekreasi di Indonesia masih sangat besar, terlihat dari perkembangannya di berbagai daerah meski sebagian besar destinasi masih bertumpu pada wisata alam. “Permintaan dari wisatawan domestik menjadi salah satu faktor yang menopang pertumbuhan industri rekreasi. Masyarakat juga dinilai makin menjadikan kegiatan rekreasi sebagai bagian dari kebutuhan keluarga,” ucapnya.
Ia berharap produsen dalam negeri dapat meningkatkan kemampuan memproduksi berbagai perlengkapan dan teknologi taman rekreasi untuk mengurangi ketergantungan pada produk impor.
Pameran bisnis yang menghadirkan lebih dari 150 perusahaan dari 12 negara ini berlangsung pada 5-6 Agustus 2026. Fun Asia Expo 2026 mempertemukan pelaku usaha, investor, pemerintah daerah, operator destinasi, serta penyedia teknologi dan perlengkapan rekreasi.
Penyelenggara pameran ini adalah PT Fun International bersama Grandeur Exhibition Group, dengan dukungan PT Funworld Prima dan Asosiasi Rekreasi Keluarga Indonesia. Pameran menampilkan sekitar 1.000 produk dan teknologi untuk industri rekreasi, serta mencakup forum industri, seminar perencanaan taman rekreasi, pembahasan inovasi wahana, pelatihan sumber daya manusia, standar keselamatan, dan pertemuan bisnis.
Melalui kegiatan ini, pelaku industri dan pemerintah berharap investasi di sektor taman rekreasi dapat meningkat, memperkuat ekosistem pariwisata, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.