— Harga emas kembali mengalami tekanan pada hari Kamis, dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Selain itu, pasar juga mencermati komentar dari ketua Federal Reserve mengenai penanganan inflasi setelah bank sentral memutuskan untuk mempertahankan suku bunga.

Menurut laporan dari CNBC International pada Kamis (30/7/2026), harga emas spot tercatat turun 0,4% menjadi US$ 4.048,39 per troy ounce pada pukul 04.45 GMT. Penurunan ini terjadi setelah emas sempat mengalami kenaikan hingga 2% pada hari Rabu.

Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman bulan Agustus mengalami kenaikan tipis sebesar 0,3%, mencapai US$ 4.045,70 per troy ounce.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Imbal hasil yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memilih untuk menyimpan emas batangan.

“Imbal hasil adalah produk sampingan dari ekspektasi suku bunga, dan jika pasar memperkirakan bahwa kekhawatiran inflasi akan diterjemahkan menjadi suku bunga yang lebih tinggi, imbal hasil akan lebih tinggi, dan ini menekan harga emas,” jelas Soni Kumari, analis di ANZ.

Meskipun emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya sebagai aset tanpa imbal hasil cenderung menurun ketika suku bunga tinggi mulai berlaku.

Analis di TD Securities dalam sebuah catatan riset memperkirakan, “Harga emas kemungkinan akan kembali mendekati US$ 3.900 per troy ounce karena harga minyak tetap berada di bawah tekanan untuk naik lebih tinggi sepanjang musim panas.”

Perlemahan harga emas juga terjadi di tengah ekspektasi pasar yang masih memperkirakan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 65% pada bulan September. Angka ini sedikit menurun dari keyakinan 81% yang tercatat sebelum keputusan kebijakan The Fed, berdasarkan data dari alat FedWatch milik CME Group.