Detak Media — JAKARTA – Harga emas global diprediksi masih akan sulit untuk mengalami penguatan dalam waktu dekat. Meskipun sempat mencatat kenaikan bulanan pertama sejak Februari 2026, beberapa faktor utama terus membatasi potensi kenaikan logam mulia tersebut. Faktor-faktor tersebut meliputi penguatan dolar Amerika Serikat (AS), tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, serta lonjakan produksi dari sektor pertambangan.
Pada perdagangan Jumat (31/7/2026), harga emas Comex tercatat mengalami penurunan sekitar 1,6% menjadi US$ 4.037,86 per ons troi. Kontrak emas untuk pengiriman Desember juga melemah 1,5% menjadi US$ 4.099,50 per ons troi. Sementara itu, harga perak juga ikut terkoreksi sebesar 2,8% menjadi US$ 57,35 per ons.
Analis independen, Ross Norman, menyatakan bahwa harga emas masih menghadapi kendala untuk membangun momentum kenaikan yang berarti dan cenderung berada dalam fase koreksi. “Emas masih kesulitan mendapatkan momentum yang berarti dan tetap berada dalam fase koreksi dari tren bullish struktural yang lebih besar,” ujar Norman, seperti dikutip dari Minning.com.
Tekanan terhadap harga emas juga diperparah oleh sikap kebijakan The Fed yang masih mempertahankan nada hawkish. Bank sentral AS pekan ini memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%. Pelaku pasar pun masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mendatang berada di angka 63%.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak yang menembus US$ 90 per barel akibat ketegangan konflik di Timur Tengah turut menjaga ekspektasi inflasi tetap tinggi. Kondisi ini secara langsung mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah AS, yang pada gilirannya mengurangi daya tarik emas sebagai aset investasi karena tidak memberikan imbal hasil.
Dari sisi pasokan, World Gold Council (WGC) melaporkan bahwa produksi tambang emas global mencapai 966 ton pada kuartal II-2026. Angka ini naik 2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menjadikannya rekor tertinggi untuk kuartal II. Sepanjang semester pertama 2026, produksi emas mencapai 1.867 ton, juga mencatat rekor baru dan meningkat 3% dari semester pertama tahun sebelumnya.
Meskipun produksi meningkat, biaya penambangan juga terus mengalami kenaikan. All-in Sustaining Cost (AISC) industri tambang emas mencapai rekor US$ 1.785 per ons troi pada kuartal I-2026, meningkat 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan biaya ini dipicu oleh peningkatan pembayaran royalti, biaya operasional perusahaan, serta mulai naiknya biaya energi akibat konflik di Timur Tengah.
Walaupun demikian, produsen emas masih mampu menikmati margin keuntungan yang tinggi. Dengan rata-rata harga emas mencapai sekitar US$ 4.872,90 per ons troi pada kuartal I, margin industri diperkirakan masih berada di kisaran US$ 3.100 per ons troi.
Bank Sentral Tetap Menjadi Penopang
Di tengah berbagai tekanan di pasar, permintaan dari bank sentral global masih menjadi penopang utama bagi harga emas. Pembelian bersih emas oleh bank sentral mencapai 289 ton pada kuartal II-2026, melonjak 62% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan mencatat rekor tertinggi untuk kuartal II.
Bank Sentral Polandia menjadi pembeli terbesar dengan tambahan 51 ton emas, diikuti oleh Bank Sentral China yang membeli 33 ton emas. Survei WGC juga menunjukkan bahwa 89% bank sentral memperkirakan cadangan emas global akan terus meningkat dalam satu tahun ke depan. Sebanyak 45% responden bahkan menyatakan berencana menambah kepemilikan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa mereka.
Berbeda dengan bank sentral, investor institusi justru menunjukkan tren pengurangan eksposur terhadap emas. Arus keluar dari Exchange Traded Funds (ETF) berbasis emas fisik mencapai 45 ton pada kuartal II, sehingga permintaan investasi di luar transaksi over-the-counter (OTC) turun 46% menjadi 262 ton. Namun demikian, permintaan emas batangan dan koin relatif stabil, terutama ditopang oleh pembelian dari China.
WGC menilai bahwa arah harga emas pada paruh kedua 2026 akan sangat bergantung pada perkembangan permintaan investasi, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta pergerakan yield obligasi pemerintah AS. Selama yield tetap tinggi dan ekspektasi kenaikan suku bunga belum mereda, harga emas diperkirakan masih akan bergerak terbatas meskipun permintaan dari bank sentral tetap solid.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.