Detak Media — Harga emas dunia menunjukkan tren penguatan pada awal perdagangan Senin, 3 Agustus 2026, menyusul koreksi tajam yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya. Meskipun demikian, pelaku pasar tetap bersikap hati-hati. Penguatan harga logam mulia ini dinilai belum sepenuhnya aman, terutama karena pasar masih menantikan rilis serangkaian data ekonomi penting dari Amerika Serikat (AS). Data tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Saat berita ini ditulis, harga emas tercatat naik 0,56% menjadi US$ 4.065,36 per ons troi. Penguatan ini terjadi setelah pada perdagangan Jumat, 31 Juli 2026, logam mulia tersebut ditutup melemah 1,48% ke level US$ 4.042,67 per ons troi.
Secara agregat, harga emas berhasil mencatat kenaikan tipis sekitar 0,29% sepanjang bulan Juli. Namun, jika dilihat dari awal tahun (year to date/ytd), harga emas masih mengalami koreksi sekitar 6,5%. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan jangka menengah terhadap emas belum sepenuhnya mereda.
Menurut Michael Boutros, Senior Technical Strategist Forex.com, emas saat ini masih bergerak dalam pola konsolidasi yang telah berlangsung kurang lebih selama enam pekan. Oleh karena itu, pasar masih membutuhkan katalis baru untuk dapat menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Boutros menjelaskan bahwa area US$ 4.074 hingga US$ 4.112 per ons troi menjadi zona krusial yang perlu dicermati oleh para investor. Jika harga mampu menembus ke atas area tersebut, hal ini berpotensi menjadi sinyal awal berakhirnya fase konsolidasi dan membuka peluang terjadinya pembalikan tren.
“Pasar masih menunggu katalis yang cukup kuat untuk mengakhiri konsolidasi yang telah berlangsung selama enam pekan,” ujar Boutros dalam sebuah risetnya.
Jika harga berhasil menembus area resistensi tersebut, target kenaikan selanjutnya diperkirakan berada pada kisaran US$ 4.312 hingga US$ 4.319 per ons troi. Level ini bertepatan dengan posisi moving average 52 pekan dan level pembukaan harga tahunan 2026.
Lebih lanjut, jika momentum beli terus meningkat, harga emas berpotensi melanjutkan penguatannya menuju US$ 4.493 hingga US$ 4.533 per ons troi. Target berikutnya yang lebih ambisius berada di kisaran US$ 4.855 hingga US$ 4.894 per ons troi, yang merupakan rekor penutupan mingguan tertinggi.
Risiko Koreksi Masih Terbuka
Di sisi lain, Boutros mengingatkan bahwa risiko penurunan harga emas belum sepenuhnya hilang. Hal ini terutama jika harga kembali gagal untuk keluar dari pola konsolidasi yang ada.
Dalam skenario penurunan, harga emas diperkirakan berpotensi turun menuju US$ 3.887 per ons troi, sebelum kemudian menguji level psikologis US$ 3.700 per ons troi.
Menurut analisisnya, level US$ 3.700 per ons troi merupakan batas penting yang harus dipertahankan untuk menjaga kelangsungan tren kenaikan jangka panjang yang telah berlangsung sejak tahun 2024. Jika terjadi penutupan harga di bawah level tersebut, ruang pelemahan lebih lanjut dapat terbuka, bahkan berpotensi menuju US$ 3.570 per ons troi, atau bahkan US$ 3.433 per ons troi.
Selain analisis teknikal, perhatian utama para investor pada pekan ini akan tertuju pada sejumlah data ekonomi AS yang dirilis. Data-data ini diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan harga emas ke depan.
Agenda ekonomi AS dimulai dengan rilis ISM Manufacturing PMI pada Senin (3/8/2026). Dilanjutkan dengan laporan ADP Employment Change dan ISM Services PMI pada Rabu (5/8/2026). Puncak rilis data ekonomi akan terjadi pada Jumat (7/8/2026) dengan diumumkannya laporan Non-Farm Payrolls (NFP) dan Average Hourly Earnings.
Boutros menyatakan bahwa data-data tersebut akan menjadi acuan utama bagi pasar dalam membaca arah kebijakan suku bunga The Fed.
Faktor lain yang turut membatasi penguatan emas adalah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun yang masih bertahan di atas 5,2%. Level ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2007 dan meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.