— JAKARTA – Para ahli memandang prospek harga emas dalam jangka panjang tetap cerah, didukung oleh faktor-faktor struktural seperti ketidakpastian geopolitik dan menurunnya kepercayaan terhadap mata uang fiat.

Manajer portofolio Gabelli Gold Fund (GOLDX), Chris Mancini, menyoroti persepsi investor yang masih menganggap emas sebagai komoditas siklikal. Menurutnya, rekor harga tertinggi yang dicapai awal tahun ini tidak serta-merta menandakan puncak siklus.

“Pasar memperdagangkannya (emas) layaknya komoditas siklikal, padahal sebenarnya bukan demikian,” ujar Mancini. Ia menjelaskan bahwa berbeda dengan logam industri seperti tembaga, nilai emas tidak bergantung pada konsumsi ekonomi, melainkan pada fungsinya sebagai aset moneter.

Meskipun optimis terhadap prospek jangka panjang, Mancini mengakui adanya potensi volatilitas jangka pendek pada harga emas, terutama terkait ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve. Risiko terbesar dalam waktu dekat, menurutnya, adalah lonjakan inflasi AS akibat kenaikan harga minyak. Hal ini dapat mendorong Federal Reserve untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Namun, risiko ini diperkirakan mereda jika kenaikan harga energi melandai.

“Menurut saya, semua faktor yang mendorong harga emas menuju level US$ 5.000 masih tetap relevan,” katanya. Ia merujuk pada langkah diversifikasi bank-bank sentral global yang mengurangi kepemilikan dolar AS, membengkaknya beban utang pemerintah, serta tren de-dolarisasi yang semakin meluas.

“Menurut saya, semua tren tersebut bergerak ke arah yang tepat. Saya yakin harga emas akan kembali mencapai level US$ 5.000 per troy ounce,” ucap Mancini. Ia menambahkan bahwa meskipun kenaikan suku bunga The Fed berpotensi menghambat kenaikan harga emas dalam jangka pendek, tren ini tidak akan mematahkan prospek jangka panjang karena kebijakan moneter yang lebih ketat juga akan membebani pertumbuhan ekonomi.