— Harga emas dunia menunjukkan pelemahan pada perdagangan Jumat, 31 Juli 2026, namun berhasil mengakhiri tren penurunan selama empat bulan terakhir. Penguatan ini didorong oleh aksi beli dari para pemodal yang memanfaatkan penurunan harga atau ‘bargain buying’ di sekitar level psikologis US$ 4.000 per ons. Investor tengah mengevaluasi perkembangan situasi di Timur Tengah dan dampaknya terhadap arah suku bunga Amerika Serikat.

Di pasar spot, harga emas terkoreksi 0,5% ke level US$ 4.076,53 per ons pada pukul 05.04 GMT. Meskipun demikian, emas mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 0,7% dan membukukan penguatan akumulatif sekitar 1,8% sepanjang bulan Juli. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga turun 0,5% menjadi US$ 4.079,60 per ons.

Analis Pasar Utama di KCM Trade, Tim Waterer, menjelaskan bahwa penurunan harga emas harian ini dipicu oleh aksi ambil untung atau profit-taking investor serta pemulihan moderat mata uang Dolar AS, setelah emas menguat tajam pada hari sebelumnya. Mata uang Dolar AS menguat sekitar 0,3%, membalikkan sebagian penurunannya setelah sempat turun drastis hingga 2,4% pada Kamis, 30 Juli 2026, yang merupakan penurunan harian terbesar sejak Januari 2023. Penguatan dolar AS cenderung membuat komoditas berdenominasi greenback ini menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

“Meskipun melemah hari ini, performa emas sepanjang bulan ini terbilang cukup solid. Salah satu penopang utamanya adalah daya tahan harga emas di sekitar level psikologis US$ 4.000 per ons, yang terbukti konsisten menarik minat pembeli setiap kali terjadi penurunan harga,” ujar Waterer.

Dari sisi kebijakan moneter, Bank Sentral AS (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan Kamis. Ketua Dewan Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, memberikan sedikit sinyal mengenai langkah kebijakan moneter berikutnya. Berdasarkan pantauan alat FedWatch dari CME Group, para pelaku pasar kini memperhitungkan probabilitas sebesar 63% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September 2026.

Secara teori, emas sering diandalkan sebagai instrumen lindung nilai atau hedge terhadap inflasi. Namun, tingkat suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik emas karena meningkatkan imbal hasil yang hilang atau opportunity cost dari memegang aset tanpa bunga tersebut.

Di kawasan Timur Tengah, ketegangan kembali meningkat setelah serangan pesawat tak berawak atau drone memicu kebakaran pada dua kapal tanker gas di Pelabuhan Damietta, Mesir. Insiden di Laut Mediterania ini menimbulkan ancaman baru bagi jalur pelayaran melalui Terusan Suez, yang menjadi salah satu rute ekspor utama minyak Arab Saudi di tengah meluasnya konflik antara AS dan Iran.

Analis dari BCA Research mencatat dinamika geopolitik ini akan terus menjadi faktor pendukung utama bagi emas. “Dalam jangka panjang, krisis di Selat Hormuz mungkin akan mereda. Namun, tren multipolaritas geopolitik, penurunan tingkat globalisasi atau hypo-globalization, serta ketidakseimbangan fiskal AS akan tetap menopang harga emas sebagai aset lindung nilai terhadap risiko aset-aset berdenominasi dolar AS,” ungkap catatan tersebut.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak di pasar spot bergerak melemah 0,5% ke level US$ 58,70 per ons. Sementara itu, platina merosot 1,2% menjadi US$ 1.639,77 per ons, dan paladium terkoreksi 0,2% ke posisi US$ 1.301,50 per ons. Meskipun melemah di akhir pekan, baik platina maupun paladium sama-sama berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan harga bulanan.

Emas secara historis ditempatkan sebagai aset aman atau safe haven utama dunia saat perekonomian atau situasi geopolitik berada dalam ketidakpastian. Terdapat tiga faktor utama yang saling berkaitan dalam memengaruhi pergerakan harga emas secara global: hubungan antara emas dan kebijakan suku bunga AS, peran Dolar AS sebagai denominasi utama, serta ketegangan geopolitik dan ketidakpastian pasar.