Detak Media — Elon Musk, CEO Tesla, secara tegas membantah rumor yang menyatakan perusahaan mobil listriknya diminta bersiap untuk melepaskan operasional bisnis di China. Isu tersebut beredar sebagai persiapan jika Tesla melakukan merger dengan SpaceX, perusahaan antariksa miliknya.
Melalui akun media sosial X miliknya, Musk menyatakan bahwa kabar tersebut sama sekali tidak benar dan tidak pernah dibahas. “Hal ini bahkan tidak pernah muncul dalam pembahasan sekali pun. Berita yang sangat konyol dan bohong (absurdly fake news),” tegasnya menanggapi laporan dari The Wall Street Journal (WSJ).
Sebelumnya, WSJ melaporkan bahwa penasihat Tesla telah menjajaki berbagai opsi untuk memisahkan bisnis di China, termasuk spin-off, penjualan aset, hingga penutupan unit. Langkah ini diduga sebagai persiapan jika Tesla dan SpaceX benar-benar bergabung.
Spekulasi mengenai potensi penggabungan Tesla dan SpaceX telah lama beredar di kalangan investor, terutama seiring lonjakan nilai SpaceX dan rencana penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) senilai US$ 75 miliar. Namun, para analis menilai merger ini akan menghadapi hambatan geopolitik dan regulasi yang kompleks, khususnya di China.
SpaceX merupakan kontraktor utama pertahanan pemerintah Amerika Serikat, sementara Tesla memiliki fasilitas manufaktur besar di China yang beroperasi penuh di bawah kepemilikannya sendiri, tanpa skema joint venture (JV) dengan mitra lokal. Hal ini menjadi keistimewaan yang jarang didapat produsen otomotif asing.
Analis dari JPMorgan memperkirakan adanya kendala dalam mendapatkan persetujuan regulasi dari kedua negara. Pemerintah China kemungkinan akan memberikan perhatian khusus terkait isu keamanan nasional jika Tesla terhubung langsung dengan kontraktor militer AS seperti SpaceX.
Gigafactory Shanghai: Pusat Produksi Vital Tesla
China bukan hanya pasar terbesar kedua bagi Tesla setelah Amerika Serikat, tetapi juga pusat produksi global yang sangat vital. Fasilitas Gigafactory Shanghai memiliki kapasitas produksi lebih dari 950.000 unit kendaraan per tahun, menyumbang lebih dari separuh total pengiriman Tesla di seluruh dunia.
Pabrik Shanghai ini berperan sebagai hub ekspor utama untuk pasar Eropa, Kanada, hingga Asia-Pasifik. Keberhasilan operasional Tesla di China ditopang oleh efisiensi rantai pasok lokal, di mana lebih dari 95% komponen untuk Model 3 dan Model Y dipasok oleh lebih dari 400 pemasok domestik China.
Peningkatan penjualan juga terlihat dari pengiriman Model 3 dan Model Y buatan China yang naik 24,4% secara tahunan (year-over-year/YoY) pada Juni 2026. Total penjualan dan ekspor kuartal II-2026 dari pabrik Shanghai melonjak hingga 32,8%.
Dilema Musk di Tengah Geopolitik AS-China
Rencana penataan ulang struktur bisnis Tesla di China tidak lepas dari memanasnya hubungan geopolitik dan persaingan dagang antara Amerika Serikat dan China dalam beberapa tahun terakhir. Elon Musk, yang beroperasi di sektor transportasi massal di China dan antariksa pertahanan di AS, menghadapi sejumlah dilema:
- Pemisahan Jalur Bisnis AS-China (Laser Separation): Musk dilaporkan telah menginstruksikan eksekutif Tesla untuk membangun pemisah yang tegas antara operasional bisnis di AS dan China. Tujuannya adalah agar operasional Tesla di AS tetap bertahan tanpa terkena dampak sistemik jika terjadi konflik atau sanksi geopolitik mendadak.
- Dilema Akses Data dan Keamanan Nasional: Penggunaan sensor, kamera, dan pengumpulan data kendaraan otonom pada mobil listrik Tesla sempat memicu kekhawatiran otoritas China terkait potensi spionase. Hal ini mendorong Tesla mendirikan pusat data lokal di China untuk memenuhi aturan kedaulatan data setempat.
- Kompetisi Sengit dari Produsen EV Lokal: Selain tekanan politik, Tesla di China juga menghadapi persaingan ketat dari produsen otomotif lokal seperti BYD, Nio, dan Xpeng. Produsen lokal menawarkan kendaraan listrik berteknologi tinggi dengan harga lebih terjangkau, memaksa Tesla untuk terus menjaga efisiensi biaya produksi.
Kombinasi dinamika geopolitik, regulasi keamanan data yang ketat, dan persaingan pasar inilah yang terus memicu spekulasi mengenai strategi jangka panjang Musk dalam menyeimbangkan imperium bisnis globalnya.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.