— JAKARTA – Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) dan pasar valuta asing (forex) saat rilis data Consumer Price Index (CPI) atau indeks harga konsumen lebih banyak ditentukan oleh besarnya selisih antara realisasi inflasi dengan ekspektasi pasar, dibandingkan angka inflasi itu sendiri.

Broker global JustMarkets mengungkapkan, pelaku pasar sering kali keliru menganggap bahwa angka inflasi yang tinggi secara otomatis akan memperkuat dolar AS. Padahal, reaksi pasar lebih banyak dipengaruhi oleh apakah data tersebut berada di atas atau di bawah konsensus analis.

Perwakilan JustMarkets menjelaskan, katalis utama volatilitas di pasar valas bukanlah besaran CPI, melainkan tingkat kejutan atau surprise terhadap ekspektasi pasar. “Katalis sebenarnya untuk volatilitas valuta asing bukanlah angka inflasi itu sendiri, tetapi seberapa jauh angka tersebut menyimpang dari konsensus pasar. Trader yang hanya fokus pada angka utama sering kali melewatkan pendorong pasar yang sebenarnya,” ujar perwakilan JustMarkets dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8/2026).

Menurut JustMarkets, misalnya jika inflasi tahunan tercatat 3,4%, angka tersebut tetap dapat memicu pelemahan dolar apabila pasar sebelumnya memperkirakan inflasi yang lebih tinggi. Sebaliknya, inflasi yang terlihat rendah dapat mendorong penguatan dolar jika hasilnya melampaui ekspektasi konsensus.

Fenomena ini terjadi karena pasar lebih dahulu membentuk ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral. Data inflasi hanya menjadi pemicu perubahan ekspektasi tersebut.

JustMarkets merinci, indikator yang paling diperhatikan pelaku pasar bukan hanya CPI utama, tetapi juga inflasi inti (core CPI), inflasi jasa inti, revisi data periode sebelumnya, serta implikasinya terhadap prospek kebijakan suku bunga bank sentral.

Untuk mengukur besarnya kejutan, trader umumnya menggunakan selisih antara CPI aktual dan konsensus pasar. Setelah data diumumkan, pasar biasanya merespons melalui perubahan imbal hasil obligasi pemerintah AS berjangka pendek sebelum akhirnya memengaruhi pergerakan dolar AS dan sentimen investor.

Dalam praktiknya, reaksi pasar setelah rilis CPI berlangsung dalam tiga fase. Tahap pertama merupakan respons cepat yang didominasi perdagangan algoritmik beberapa detik setelah data diumumkan. Selanjutnya, pelaku pasar mulai mengevaluasi komponen inflasi inti dan pergerakan imbal hasil obligasi selama sekitar 15 hingga 60 menit. Setelah itu, tren harga akan berlanjut atau justru berbalik arah bergantung pada interpretasi pasar.

JustMarkets menilai terdapat dua strategi yang umum digunakan trader saat rilis CPI, yakni pendekatan momentum yang mengikuti arah pergerakan setelah data dikonfirmasi, serta pendekatan fade yang memanfaatkan potensi pembalikan harga ketika reaksi awal dinilai berlebihan.

Meski demikian, perusahaan mengingatkan bahwa perdagangan saat rilis data inflasi memiliki tingkat risiko yang tinggi akibat pelebaran spread dan potensi slippage. Karena itu, pengelolaan risiko tetap menjadi faktor utama dalam menghadapi volatilitas pasar yang meningkat selama publikasi data ekonomi penting tersebut.