Detak Media — JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 diproyeksikan melambat, diperkirakan berada di kisaran 4,78% hingga 5,18% secara tahunan. Perlambatan ini lebih rendah dibandingkan realisasi triwulan I-2026 yang mencapai 5,61%, dan berbeda dari target pemerintah yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,4%.
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 pada hari ini, Rabu (5/8/2026). Selain itu, BPS juga akan merilis data penting lainnya, termasuk profil kemiskinan per Maret 2026, tingkat ketimpangan pengeluaran per Maret 2026, keadaan ketenagakerjaan per Mei 2026, serta indeks kondisi dan prospek bisnis industri manufaktur (IKBM) triwulan II-2026.
Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2026 berada di rentang 4,8% hingga 4,9% secara tahunan. Peneliti Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa perlambatan ini dipengaruhi oleh normalisasi konsumsi rumah tangga pasca-hari besar, tekanan dari defisit neraca perdagangan, dan kenaikan harga energi. Meskipun belanja pemerintah dan investasi masih menjadi penopang, keduanya belum cukup kuat untuk mengatasi pelemahan permintaan domestik dan sektor eksternal.
“Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 di kisaran 4,8% hingga 4,9% secara tahunan, melambat dibandingkan triwulan I-2026 yang tumbuh 5,61%,” ujar Yusuf pada Selasa (4/8/2026).
Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar Amerika Serikat juga memberikan tekanan tambahan. Depresiasi mata uang ini meningkatkan biaya impor dan bahan baku, yang berujung pada kenaikan inflasi dari sisi biaya. “Kondisi ini berdampak pada daya beli masyarakat sekaligus menekan margin industri, terutama sektor yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor,” terang Yusuf.
Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendongkrak harga energi dan biaya logistik. Dampaknya terasa pada kenaikan impor migas, tekanan terhadap neraca perdagangan, dan meningkatnya kehati-hatian investor. Akibatnya, kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi lebih terbatas.
Sektor manufaktur masih menghadapi tantangan. Kontraksi Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur ke level 46,9 pada Juni 2026 menunjukkan pelemahan permintaan dan produksi, terutama pada industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan keramik. Meskipun PMI naik menjadi 50,2 pada Juli, perbaikan ini belum signifikan memengaruhi kinerja triwulan II-2026.
Apabila pertumbuhan ekonomi berada di bawah 5%, Yusuf memprediksi dampaknya akan terasa pada pasar tenaga kerja. Penciptaan lapangan kerja formal bisa melambat, dan risiko tekanan pada industri, termasuk potensi pengurangan tenaga kerja, dapat meningkat. Kondisi ini pada gilirannya akan kembali memengaruhi konsumsi rumah tangga, yang merupakan salah satu penggerak utama ekonomi.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 masih berada di atas 5%. “Masih di atas 5% dan didorong oleh investasi dan beberapa insentif yang didorong oleh pemerintah,” kata dia di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Airlangga menyatakan, pemerintah akan menggenjot belanja pemerintah dan investasi pada semester II-2026 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan peran vital kedua komponen tersebut terhadap perekonomian.
Realisasi belanja negara pada semester I-2026 mencapai Rp1.656 triliun dengan penyerapan 43,1% dari target Rp3.842,7 triliun. Angka ini tumbuh 17,8% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp1.298,6 triliun dan transfer ke daerah Rp357,4 triliun. “Pada triwulan ketiga dan keempat, tentu yang didorong adalah belanja pemerintah dan investasi,” terang Airlangga.
Chief Economist Bank Danamon, Irman Faiz, berpendapat bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi mencerminkan normalisasi pola belanja pemerintah yang lebih lambat dan meredanya aktivitas pasca-hari besar keagamaan, ditambah sektor eksternal yang kurang mendukung. Pihaknya memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 mencapai 5,18%.
Menurut Irman, konsumsi rumah tangga masih tumbuh baik namun belum optimal sebagai akselerator pertumbuhan. Stimulus ekonomi pemerintah memberikan dukungan, namun masyarakat cenderung berhati-hati dalam membelanjakan pendapatan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit konsumsi yang masih jauh lebih rendah dibanding kredit investasi. “Artinya, pemulihan permintaan domestik masih berlangsung secara bertahap dan belum sepenuhnya merata,” jelasnya, Selasa (4/8/2026).
Dari sisi permintaan domestik, investasi diperkirakan tetap menjadi motor utama pertumbuhan, didukung oleh masuknya investasi asing pada sektor hilirisasi, manufaktur, data center, dan infrastruktur. Permintaan barang modal juga tinggi, tercermin dari pertumbuhan impor barang modal yang kuat. “Meskipun dalam jangka pendek hal ini memperlebar impor dan menekan neraca perdagangan, dalam jangka menengah kondisi tersebut justru mencerminkan ekspansi kapasitas produksi yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke depan,” terang Irman.
Dari sisi eksternal, ekspor menjadi faktor yang menahan pertumbuhan pada triwulan II-2026. Meskipun ekspor Indonesia relatif resilien, impor tumbuh lebih cepat seiring tingginya kebutuhan barang modal, bahan baku, dan energi. Kondisi ini tercermin dari defisit neraca perdagangan selama dua bulan berturut-turut pada Mei dan Juni, yang menunjukkan kontribusi negatif sektor eksternal terhadap produk domestik bruto pada triwulan II.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 4,80% (yoy), dengan rentang 4,78%-4,82%. Pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 5,00% (yoy), dengan rentang 4,95%-5,05%.
Riefky menjelaskan, salah satu faktornya adalah high base effect karena ekonomi tumbuh 5,12% (yoy) pada triwulan II-2025. Selain itu, tidak ada dorongan musiman yang signifikan pada triwulan II-2026 karena Ramadan dan Idulfitri terjadi pada triwulan I-2026. Guncangan eksternal berupa tingginya harga energi dan pelemahan rupiah juga memicu inflasi impor, yang meningkatkan biaya produksi.
“Kemudian, keputusan pemerintah untuk menaikkan harga Pertamax juga dinilai turut menggerus daya beli masyarakat melalui kenaikan harga barang dan biaya transportasi,” jelasnya, Selasa (4/8/2026).
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terus melemah sepanjang triwulan II-2026, turun dari 123,0 pada April menjadi 120,9 pada Mei, dan 117,8 pada Juni. Rata-rata IKK pada triwulan II-2026 tercatat 120,6, atau turun 4,4 poin dibandingkan rata-rata 125,0 pada triwulan sebelumnya.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.