— PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menunjukkan komitmennya dalam merawat kekayaan seni dan budaya Indonesia melalui partisipasi aktif jajaran manajemennya dalam pementasan seni tradisional Ketoprak Financial 2026. Pertunjukan bertajuk “Sultan Agung: Harta, Tahta, dan Cinta” ini diselenggarakan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada Kamis (30/7).

Kehadiran para direksi BCA memberikan warna tersendiri pada pementasan tersebut. Direktur BCA Vera Eve Lim, Direktur BCA Haryanto Tiara Budiman, dan SVP Contact Center & Digital Services BCA, Wani Sabu, turut ambil bagian sebagai pemeran di atas panggung. Selain itu, Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono juga berpartisipasi sebagai asisten sutradara.

Keterlibatan langsung jajaran kepemimpinan ini menegaskan bahwa apresiasi BCA terhadap seni tradisi tidak hanya sebatas dukungan, melainkan juga aksi nyata dalam menghidupkan seni pertunjukan lokal. Antonius Widodo Mulyono menyatakan kebanggaannya dapat terlibat dalam pergelaran ini.

“Merupakan kebanggaan bagi BCA dapat terlibat dalam pergelaran Ketoprak Financial 2026 dan menjadi bagian dari perjalanan seni tradisi Indonesia. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa budaya adalah identitas yang perlu dirawat bersama. Kami berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, dapat mengenal, mencintai, dan turut melestarikan kekayaan budaya Nusantara,” ujar Antonius, dikutip dari keterangan resmi, Minggu (2/8/2026).

Dukungan terhadap pergelaran Ketoprak Financial 2026 ini merupakan bagian dari konsistensi BCA dalam mengusung pilar Bakti Budaya di bawah payung Bakti BCA. Secara berkelanjutan, BCA juga senantiasa memperluas ruang apresiasi budaya masyarakat melalui berbagai kegiatan. Di antaranya adalah dukungan pada Pagelaran Sabang Merauke, Wayang Goes to School, serta kemitraan sebagai mitra perbankan utama Art Jakarta & Art Jakarta Gardens, dan konser internasional.

Sejak tahun 2012, BCA telah aktif berkolaborasi dengan seniman lokal dan komunitas seni. Upaya ini bahkan telah mengantarkan BCA meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai “Perusahaan dengan Kegiatan Pelestarian Wayang Terbanyak”.