Detak Media — PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp29,53 triliun pada paruh pertama 2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan tipis 1,76% secara tahunan (year on year/yoy). Meskipun menghadapi dinamika ekonomi dan suku bunga yang menantang, perseroan memutuskan untuk tidak merevisi Rencana Bisnis Bank (RBB) yang telah ditetapkan.
Direktur BCA Vera Eve Lim menyatakan bahwa hingga semester I-2026, perseroan masih berada di jalur yang sesuai target. Pertumbuhan kredit tercatat sebesar 4,3% secara year-to-date (ytd) dibandingkan Desember 2025, sementara secara kuartalan meningkat 4,2%. “Tidak ada (revisi RBB). Kami tetap mempertahankan target daripada pertumbuhan kredit, di RBB itu kisaran 8-10%. Secara keseluruhan kita masih on target mempertahankan target untuk sepanjang tahun 2026,” ujar Vera dalam konferensi pers, Selasa (28/7/2026).
Vera menjelaskan bahwa meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan BI Rate hingga 100 basis poin tahun ini, BCA belum melakukan penyesuaian bunga kredit secara agresif. Perseroan memprioritaskan penjagaan momentum pertumbuhan kredit dibandingkan langsung meneruskan kenaikan biaya dana kepada debitur. Hal ini menyebabkan beban bunga BCA meningkat, sementara pendapatan bunga hanya naik tipis pada semester I-2026. “Apakah ada transmisi suku bunga? Tidak besar. Kuartal ke kuartal kami naik hanya sedikit, 4 bps. Jadi tidak terlalu material dibandingkan kenaikan BI yang 100 bps. Karena kami utamakan adalah potensi pertumbuhan yang lebih baik,” kata Vera.
Di tengah kenaikan suku bunga dan persaingan likuiditas industri, margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) BCA mengalami tekanan. Hingga semester I-2026, NIM tercatat sebesar 5,3%, turun dari 5,8% pada periode yang sama tahun lalu atau menyusut 50 basis poin. Menurut Vera, penurunan tersebut merupakan dampak dari tren penurunan suku bunga kredit sepanjang 2025 yang masih berlanjut hingga kuartal I-2026, ditambah ketatnya persaingan perbankan dalam menghimpun dana. “NIM kami turun year on year 50 bps. Quarter on quarter sedikit turun 10 bps. Ini adalah dampak dari persaingan, pertumbuhan dan sebagainya,” ucap Vera.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menambahkan bahwa transmisi kenaikan BI Rate tidak bisa dilakukan sekaligus karena mengikuti jatuh tempo fasilitas kredit masing-masing debitur. Kenaikan BI Rate terjadi pada Mei-Juni 2026, sehingga pihaknya harus melihat jatuh tempo debitur terlebih dahulu sebelum menaikkan bunga kepada semua debitur. “Jadi penaikannya bertahap dan kami tidak menaikkan ke semua nasabah. Hanya nasabah yang selektif yang kami lihat dari sisi bisnis masih bisa dinaikkan. Untuk nasabah yang rate-nya sudah tinggi, kami tidak naikkan,” jelas Hendra.
Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih menambahkan, target pertumbuhan kredit tidak mengalami perubahan dan masih sesuai dengan yang ditetapkan di awal. Hal ini didukung oleh sejumlah sektor yang masuk dalam pipeline. “Outlook loan growth tidak ada perubahan, kira-kira sekitar 8-10% sampai akhir 2026. Pipeline kami juga masih berasal dari infrastruktur baik yang related kepada teknologi, kemudian infrastruktur terkait transportasi, logistik. Kemudian plantation, perkebunan termasuk pertanian, financial services, ini juga merupakan part of the pipeline kami,” beber John.
Kinerja Semester I
Sepanjang semester I-2026, pencapaian laba bersih BCA senilai Rp29,53 triliun didukung oleh pendapatan bunga yang sebesar Rp49,86 triliun, naik tipis 0,99% (yoy). Sementara itu, beban bunga meningkat 7,73% (yoy) menjadi Rp7,25 triliun. Akibatnya, pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) BCA susut 0,09% (yoy) menjadi Rp42,6 triliun. Pertumbuhan laba juga didorong oleh pendapatan non bunga (non-interest income) yang tumbuh tinggi 11% (yoy) menjadi Rp13,2 triliun, utamanya dari fee-based income.
Hendra menjelaskan bahwa penurunan NII mampu dikompensasi melalui disiplin pengelolaan biaya operasional, kualitas kredit, serta pertumbuhan dana murah (Current Account and Savings Account/CASA) sebesar 10,2% (yoy). “Dengan penurunan net interest income tentu bagaimana kami mencapai pertumbuhan laba bersih, ya tentunya di BCA sendiri kami terus disiplin mengenai biaya, juga kredit disiplin. Pertumbuhan CASA tentunya juga akan banyak membantu pertumbuhan laba bersih,” ungkap Hendra.
BCA menjaga penyaluran kredit secara prudent ke berbagai sektor, sejalan dengan komitmen perusahaan mendukung perekonomian nasional. Penyaluran kredit BCA per semester I-2026 tumbuh 7,97% (yoy) dan untuk pertama kalinya menembus angka Rp1.000 triliun, tepatnya senilai Rp1.035,62 triliun. Capaian tersebut didukung pendanaan solid, dengan pertumbuhan giro dan tabungan (CASA) 10,2% (yoy) mencapai Rp1.082 triliun. Total dana pihak ketiga (DPK) BCA naik 7,92% (yoy) mencapai Rp1.284,05 triliun. Porsi CASA BCA mencapai sekitar 84,3% dari total DPK, dan Cost of Fund (CoF) konsisten terjaga.
“Kinerja BCA pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai hal, seperti BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor. Kami memastikan penyaluran kredit BCA dilakukan dengan selalu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perusahaan,” tutur Hendra.
Kredit BCA ditopang pembiayaan produktif Rp802 triliun, meningkat 11% (yoy). Penyaluran kredit produktif mencakup pembiayaan korporasi yang tumbuh 13,6% (yoy) menjadi Rp513,4 triliun, serta kredit komersial dan UKM dengan pertumbuhan 6,6% (yoy) menjadi Rp288,5 triliun. Kredit hijau (green financing) BCA tumbuh 19% (yoy) mencapai Rp123 triliun. Capaian ini salah satunya ditopang pembiayaan berkelanjutan ke sektor energi baru terbarukan yang tumbuh hingga 82% (yoy) menjadi Rp7,7 triliun. Selain itu, kredit kendaraan bermotor listrik tumbuh 25% (yoy) mencapai Rp4 triliun.
Penyaluran kredit BCA juga dijaga dengan kualitas yang bagus, di mana rasio loan at risk (LAR) dan non-performing loan (NPL) gross membaik menjadi masing-masing 4,9% dan 1,86% dari sebelumnya 5,7% dan 2,17%. Dari sisi pencadangan, BCA mencatatkan peningkatan provisi sebesar 11,6% (yoy) menjadi Rp2,5 triliun pada pertengahan tahun ini sebagai bantalan untuk mengantisipasi risiko ke depan.
Untuk rasio keuangan lainnya, bank swasta terbesar di Indonesia ini mencatatkan return on asset (ROA) di level 3,8% pada semester I-2026, turun 0,3% dari tahun sebelumnya 4,1%. Selanjutnya, return on equity tercatat di posisi 24,1%, lebih rendah dari semester I-2025 di level 25,2%.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.