— JAKARTA – Pasar saham Tanah Air menyaksikan pergerakan signifikan dari investor asing pada awal perdagangan Agustus 2026. Tiga bank besar Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), menjadi sasaran aksi jual bersih oleh investor asing.

Pada perdagangan Jumat (31/7/2026), saham BBCA tercatat mengalami net sell senilai Rp 100,4 miliar, yang menyebabkan harganya anjlok 1,94% ke level Rp 6.325. Perubahan ini kontras dengan empat hari bursa sebelumnya di pekan lalu, di mana saham BBCA secara konsisten mencatatkan net buy dari investor asing, bahkan mencapai Rp 317,41 miliar pada 30 Juli 2026.

Tren jual bersih investor asing juga terlihat pada sesi I perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (3/8/2026). Total transaksi jual bersih investor asing mencapai Rp 363,5 miliar. Selain BBCA, BBRI dan BMRI juga turut dilepas oleh investor asing dalam manuver tersebut.

Sementara itu, pasar komoditas emas menunjukkan dinamika yang berbeda. Pada Senin pagi, 3 Agustus 2026, harga emas perhiasan terpantau stabil di sejumlah pedagang emas besar seperti Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas. Calon pembeli dan investor disarankan untuk terus memantau pergerakan harga yang dinamis.

Prospek harga emas pada Agustus 2026 memasuki fase krusial. Pakar menilai pasar berada di ambang titik balik, dengan arah pergerakan selanjutnya sangat bergantung pada breakout dari pola konsolidasi yang terbentuk dan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS). Pada Jumat (31/7/2026), harga emas ditutup anjlok 1,48% ke US$ 4.042,67 per ons troi, namun secara bulanan masih mencatat kenaikan 0,29%. Namun, secara year-to-date (ytd), harga emas telah tergerus 6,5%.

Senior Technical Strategist Forex.com, Michael Boutros, menjelaskan bahwa harga emas masih bertahan dalam pola konsolidasi ketat di dekat level terendah tahunannya. Pasar kini berada di titik teknikal yang menentukan.

Di sisi lain, emiten PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro, berencana mengincar dana senilai Rp 1,5 triliun melalui aksi rights issue dengan harga pelaksanaan Rp 250 per lembar. Dana tersebut akan digunakan untuk penyertaan modal di PT Bukit Bali Permai guna mengakuisisi PT Royal Uluwatu Residence dan pengembangan proyek West Resort di Uluwatu. Selain itu, dana ini juga akan dialokasikan untuk pembayaran utang, pembangunan infrastruktur Uluwatu Estate, renovasi Alila Ubud, serta penyertaan modal di PT Bukit Lagoi Villa untuk pengembangan kawasan wisata terpadu di Lagoi, Bintan.