Detak Media — Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk dikembangkan oleh penyandang disabilitas. Melalui dukungan pelatihan, pendampingan usaha, akses modal, dan perluasan pasar, penyandang disabilitas dinilai mampu menjadi pelaku usaha yang produktif dan inovatif.
Mengusung semangat pemberdayaan yang inklusif, PT Danareksa (Persero) bersama Alunjiva Indonesia kembali memperkuat komitmennya dalam mendorong pemberdayaan ekonomi bagi 20 pelaku usaha penyandang disabilitas melalui program ‘Iklusif Danareksa Berkarya’. Setelah menjalani pembelajaran daring selama satu bulan, para peserta mengikuti pelatihan dan pendampingan secara langsung di Kota Malang pada 21–23 Juli 2026. Rangkaian program ini dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan dasar mengenai pengembangan usaha.
Program ini menghadirkan ruang belajar bagi para pelaku UMKM penyandang disabilitas untuk meningkatkan kompetensi kewirausahaan, memperluas jejaring, serta mengembangkan strategi bisnis yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Corporate Secretary & CSR PT Danareksa (Persero), Agus Widjaja, menyampaikan bahwa penguatan kewirausahaan penyandang disabilitas dapat menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus sosial yang lebih luas.
“Pemberdayaan ekonomi inklusif tidak berhenti pada peningkatan kapasitas individu. Ketika pelaku usaha penyandang disabilitas mampu meningkatkan kualitas usahanya, memperluas akses pasar, dan membangun bisnis yang berkelanjutan, mereka turut menciptakan nilai tambah bagi keluarga, membuka peluang ekonomi di lingkungan sekitarnya, serta memperkuat rantai nilai di daerah,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Ia berharap melalui Program Iklusif Danareksa Berkarya I dapat membantu peserta mengoptimalkan potensi usaha dan mengambil peran yang semakin besar dalam kegiatan ekonomi. Program ini turut didukung oleh Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang, yang diwakili oleh Pivi Dwi Saputri, Kepala Bidang Usaha Mikro.
“Kehadiran pemerintah daerah menjadi bentuk sinergi lintas sektor dalam mendukung penguatan kapasitas pelaku UMKM penyandang disabilitas serta mendorong terciptanya ekosistem kewirausahaan yang lebih inklusif,” ujarnya.
Sementara itu, Co-Founder Alunjiva Indonesia, Fany Efrita, menyampaikan bahwa teman-teman penyandang disabilitas di Malang menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Mereka tidak hanya antusias mengembangkan usahanya, tetapi juga saling mendukung dan menguatkan satu sama lain.
“Semangat kolaborasi seperti inilah yang kami harapkan terus tumbuh, sehingga para pelaku UMKM dapat berkembang bersama dan semakin berdaya,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Republik Indonesia (RI) pada tahun 2025, tercatat sebanyak 1,38 juta orang pengusaha UMKM penyandang disabilitas aktif menggerakkan roda ekonomi di Indonesia. Angka tersebut mengambil porsi sebesar 4,76% dari total keseluruhan 28,98 juta pengusaha UMKM di Indonesia pada tahun yang sama. Kelompok pelaku usaha dari segmen nondisabilitas mendominasi dengan jumlah mencapai 27,6 juta orang atau 95,24%. Meskipun secara persentase masih tergolong kecil, eksistensi pengusaha UMKM penyandang disabilitas ini menjadi bukti nyata bahwa aktivitas ekonomi di Indonesia kini telah menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang keterbatasan fisik maupun kemampuan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.