— Potensi bisnis wealth management di industri perbankan Indonesia masih sangat terbuka lebar. Hal ini seiring dengan terus meningkatnya akumulasi dana yang dihimpun dari nasabah kelas atas. Data terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan bahwa simpanan bank umum dengan nominal di atas Rp5 miliar mencapai Rp5.974,4 triliun per Juni 2026. Kelompok dana ini menjadi yang terbesar di industri perbankan nasional.

Simpanan kelompok nasabah kakap tersebut tercatat tumbuh 15,4% secara tahunan (year on year/yoy) dan meningkat 3,2% sejak awal tahun (year to date/ytd). Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, pertumbuhannya bahkan mencapai 40,8%, jauh melampaui kelompok simpanan lainnya. Meskipun demikian, pertumbuhan dana nasabah kakap secara bulanan mulai menunjukkan perlambatan dengan kontraksi 0,9% dibandingkan bulan Mei 2026. Namun, secara tren jangka panjang, akumulasi dana kelompok ini tetap menjadi motor penggerak utama pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK).

Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, dikutip pada Kamis (6/8/2026), menyatakan bahwa pertumbuhan tertinggi terjadi pada kelompok simpanan di atas Rp5 miliar yang meningkat 15,44% secara tahunan dan didominasi oleh dana korporasi.

Di sisi lain, simpanan masyarakat pada kelompok kecil hingga menengah juga terus tumbuh, namun dengan laju yang lebih moderat. Simpanan hingga Rp100 juta tercatat sebesar Rp1.166,76 triliun, naik 5,2% (yoy). Kelompok simpanan Rp100-200 juta tumbuh 4,2% (yoy) menjadi Rp477,71 triliun. Kelompok simpanan Rp200-500 juta juga meningkat 3,1% (yoy) menjadi Rp760,06 triliun. Sementara itu, simpanan Rp500 juta hingga Rp5 miliar hanya tumbuh di kisaran 0,8%-2,7% (yoy), bahkan beberapa kategori mengalami penurunan secara bulanan maupun sejak awal tahun.

Data tersebut mengindikasikan bahwa pertumbuhan kekayaan finansial masih terkonsentrasi pada segmen nasabah prioritas dan ultra-high-net-worth. Kondisi ini membuka ruang ekspansi yang signifikan bagi industri perbankan untuk memperkuat layanan wealth management mereka.

Potensi Ekspansi Bank Jago

Salah satu bank yang melihat potensi besar ini adalah PT Bank Jago Tbk (ARTO). Perseroan menilai ruang pertumbuhan bisnis wealth management masih sangat besar, terutama seiring dengan rendahnya penetrasi nasabah yang memanfaatkan layanan investasi di ekosistem Bank Jago, Bibit, dan Stockbit.

Hingga akhir Juni 2026, Bank Jago memiliki 14,7 juta pengguna aplikasi. Namun, baru sekitar 3,6 juta nasabah yang telah menggunakan fitur investasi melalui integrasi dengan Bibit dan Stockbit. Head of Wealth Management Bank Jago, Nyoman Sukmawati, mengatakan bahwa angka ini menunjukkan peluang besar bagi perseroan untuk meningkatkan adopsi produk wealth management melalui edukasi dan pengembangan fitur.

“Kalau kita lihat pengguna aplikasi Jago sudah 14,7 juta, sementara yang menggunakan fitur wealth di ekosistem bersama Bibit dan Stockbit sekitar 3,6 juta. Artinya, kami masih punya banyak kesempatan untuk memperkenalkan berbagai fitur dan kemudahan kepada nasabah,” ujar dia.

Menurutnya, strategi pengembangan wealth management tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah investor, tetapi juga penyesuaian produk dengan profil risiko masing-masing nasabah. Segmen ini menjadi semakin menarik karena nasabah tidak lagi hanya membutuhkan produk simpanan, tetapi juga solusi investasi, pengelolaan aset, dan layanan perbankan lainnya.

Hal ini mendorong banyak bank untuk berlomba memperluas bisnis wealth management melalui penguatan layanan, penasihat investasi, hingga penawaran produk investasi yang lebih beragam. Tren tersebut juga terlihat dari strategi sejumlah bank yang agresif memperluas layanan bagi nasabah prioritas, seiring terus bertambahnya dana yang dikelola kelompok masyarakat beraset besar.

Minat Investasi Nasabah

Nyoman menambahkan, jumlah pengguna Rekening Dana Nasabah (RDN) Bank Jago yang terkoneksi dengan Bibit dan Stockbit mencapai hampir 2 juta pengguna. Hal ini menunjukkan banyaknya masyarakat yang memanfaatkan Aplikasi Jago dan Bibit-Stockbit untuk mengelola keuangan sekaligus berinvestasi secara lebih mudah dan terintegrasi.

Nasabah menunjukkan minat terhadap berbagai instrumen investasi sesuai kebutuhan dan profil risiko masing-masing. Berdasarkan jenis instrumen, portofolio investasi nasabah Bank Jago yang dikelola melalui Bibit dan Stockbit saat ini terdiri dari saham (48,4%), reksa dana (38,6%), dan obligasi (13%). Sementara dari volume transaksi, saham mendominasi sebesar 88%, disusul reksa dana (11,9%), dan sisanya obligasi.

Head of PR & Corporate Communication Bibit & Stockbit, William, menyatakan bahwa kolaborasi lima tahun dengan Bank Jago ini berlangsung di tengah tren investasi Indonesia yang terus berkembang. Terutama dengan meningkatnya partisipasi investor ritel dan generasi muda yang menjadikan investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Per akhir semester I-2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah investor hampir mencapai 30 juta.

“Investasi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda, dalam rangka memiliki kesehatan finansial dan masa depan yang lebih baik. Karena itulah, kolaborasi Bibit-Stockbit bersama Bank Jago dalam menghadirkan pengalaman investasi yang aman, mudah dipahami, dan terintegrasi menjadi sangat penting dan relevan,” ujar William.

Peran Wealth Report OCBC NISP

Sementara itu, PT Bank OCBC Tbk (NISP) juga turut memperkuat segmen ini dengan memperkenalkan Wealth Report sebagai bagian dari proses perencanaan keuangan dan investasi yang dikenal dengan Wealth Discovery. Wealth Report memberikan data dan insight lengkap bagi nasabah untuk dapat menentukan pilihan investasi sesuai dengan aspirasi keuangan mereka. OCBC meyakini bahwa pemilihan alokasi investasi merupakan sebuah keputusan strategis.

“Prinsip wealth management adalah bagaimana konsumen dapat mengoptimalkan, melindungi, hingga meneruskan aset ke generasi berikutnya. Dengan demikian, wealth journey setiap nasabah akan sangat berbeda, sehingga dibutuhkan informasi melalui Wealth Report mendalam dan pendampingan oleh RM secara personal. Sehingga, nasabah dapat dengan presisi menentukan arah perkembangan portofolio mereka,” ungkap Wealth Management Advisory Head OCBC, Diamond Stole.