Detak Media — Kementerian Perdagangan China menyatakan ancaman balasan setelah Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) melarang impor perangkat robotik canggih, termasuk robot berbentuk manusia (humanoid), karena alasan keamanan siber. Langkah ini menambah panas persaingan perdagangan kedua negara.
Otoritas China menilai tindakan AS mengabaikan sikap menahan diri yang telah ditunjukkan dan berisiko merusak stabilitas ekonomi serta perdagangan bilateral. Kementerian Perdagangan China menegaskan bahwa langkah AS tersebut secara serius merusak stabilitas ekonomi dan perdagangan China-AS, mendesak pencabutan segera keputusan itu atau menghadapi konsekuensi balasan.
Larangan impor ini berpotensi memberikan pukulan telak bagi industri robotik China yang sedang berkembang pesat. Data dari perusahaan riset Counterpoint menunjukkan bahwa tiga produsen robot humanoid asal China, yaitu Agibot, Unitree, dan UBTech, mendominasi pangsa pasar instalasi global pada tahun 2025, bahkan mengungguli robot Optimus milik Tesla yang berada di peringkat kelima.
Para analis memperkirakan China memiliki beberapa opsi balasan terhadap kebijakan AS. Direktur Riset di Counterpoint Research, Marc Einstein, menyebutkan dua opsi utama yang bisa diambil China, yaitu memperketat ekspor tanah jarang (rare earths) ke perusahaan AS atau membatasi akses pasar China bagi raksasa teknologi AS seperti Tesla dan NVIDIA.
Eskalasi perang teknologi ini terjadi menjelang rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada September 2026. Setelah pengumuman pembatasan tersebut, saham UBTech yang terdaftar di bursa Hong Kong mengalami penurunan lebih dari 6% pada perdagangan Kamis pagi.
Persaingan supremasi teknologi antara AS dan China kini meluas dari sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) hingga ke industri robotik tingkat lanjut (advanced robotics). Robot humanoid diproyeksikan akan menjadi tulang punggung otomatisasi manufaktur dan layanan di masa depan.
Pembatasan akses pasar oleh pemerintah AS tidak hanya mengancam rencana penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) bagi produsen robot asal China, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran baru mengenai potensi gangguan pada rantai pasok teknologi global.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.