— Setelah sempat mencapai puncak nilai di atas US$ 126.000 pada Oktober 2025, Bitcoin (BTC) kini menghadapi tekanan jual yang signifikan. Aset kripto terbesar di dunia ini telah mengalami penurunan hingga 25% sepanjang tahun berjalan, bahkan sempat menguji level psikologis US$ 60.000. Penurunan ini mengikis optimisme pasar yang sebelumnya didorong oleh peluncuran spot ETF dan adopsi institusional.

Para analis global tengah mencermati sejumlah faktor krusial yang berpotensi menentukan arah pergerakan Bitcoin selanjutnya. Regulasi di Amerika Serikat, kebijakan moneter bank sentral The Federal Reserve (The Fed), serta dinamika politik AS melalui pemilu sela menjadi sorotan utama.

Berbeda dari krisis aset kripto sebelumnya yang sering kali dipicu oleh masalah internal ekosistem, penurunan kali ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global. Tingginya imbal hasil obligasi, pengetatan kondisi keuangan global, dan menurunnya minat investor terhadap aset berisiko memberikan beban tambahan bagi pasar kripto, sejalan dengan pergerakan pasar saham.

Juni 2026 menjadi bulan yang berat bagi Bitcoin, dengan penurunan mencapai 19%, mencatat kinerja bulanan terburuk sejak krisis Three Arrows Capital pada 2022. Tekanan jual diperparah oleh penarikan dana besar-besaran dari produk spot ETF kripto yang berbasis di AS. Selama enam minggu hingga pertengahan Juli 2026, tercatat arus keluar dana mencapai US$ 2,7 miliar, mengikis salah satu pendorong utama kenaikan harga tahun lalu.

Kepala Unit Manajemen Aset Digital Aktif Franklin Templeton, Chris Perkins, mengamati adanya migrasi modal investor ritel dari aset kripto ke sektor kecerdasan buatan (AI) yang dianggap sebagai daya tarik baru. Hal ini menyebabkan lesunya volume perdagangan aset digital. “Modal berisiko dari investor ritel telah bermigrasi ke AI sebagai daya tarik baru. Namun, pembangunan infrastruktur oleh lembaga institusional tidak pernah berhenti, dan fundamental jaringan mendasar Bitcoin terus menguat,” jelas Perkins.

Situasi ini diperkuat oleh rendahnya partisipasi pasar. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa jika sektor AI mengalami koreksi, hal itu juga dapat memberikan tekanan pada pasar aset digital akibat penurunan minat risiko secara umum. Blue Macellari, Kepala Aset Digital di T. Rowe Price, mengategorikan kondisi saat ini sebagai ‘crypto winter’ klasik, bukan sebuah kehancuran yang aneh. “Kami mengalami aksi jual yang tajam di pasar kripto sejak Oktober lalu dan masuk ke fase ‘bear market’. Penurunannya memang curam, tetapi ini hal yang biasa,” ungkap Macellari.

Secara historis, Bitcoin memang kerap mengalami siklus ‘bear market’ yang berkepanjangan setiap empat tahun sekali, seperti pada 2014, 2018, dan 2022, yang kemudian selalu diikuti oleh fase adopsi baru dan pencapaian rekor harga tertinggi. Mayoritas investor institusional tidak terlalu terpaku pada level US$ 60.000 sebagai pertahanan terakhir, melainkan lebih fokus pada data blockchain yang mencerminkan perilaku investor jangka panjang.

Perkins menekankan perbedaan pola pikir antara trader harian yang fokus pada angka teknis jangka pendek, dengan investor jangka panjang yang memprioritaskan perkembangan struktur dan teknologi. Macellari sepakat bahwa level US$ 60.000 terutama berdampak pada sentimen investor. Penembusan jauh di bawah angka tersebut dapat meningkatkan volatilitas pasar akibat kepanikan, meskipun tidak mengubah tesis investasi jangka panjang Bitcoin.

Faktor Pemicu Kebangkitan Harga Bitcoin

Para analis mengidentifikasi beberapa pemicu yang berpotensi membalikkan arah pasar kripto ke zona positif sebelum akhir tahun:

  • Regulasi AS: Kepastian hukum melalui rancangan undang-undang seperti CLARITY Act diharapkan dapat memberikan kerangka hukum yang jelas dan mendorong partisipasi institusional yang lebih luas.
  • Kebijakan Moneter: Kebijakan The Fed yang lebih longgar (‘dovish’), meredanya inflasi, dan penurunan suku bunga riil akan memperbaiki prospek seluruh aset berisiko.
  • Peta Politik AS: Firma manajemen aset 21Shares mencatat korelasi antara pergerakan Bitcoin dengan proyeksi hasil pemilu sela AS pada November 2026. Kemenangan pihak yang lebih ramah terhadap kripto diharapkan dapat mempercepat dukungan regulasi.
  • Adopsi Institusional yang Solid: Banyak platform manajemen kekayaan kini merekomendasikan alokasi kecil pada Bitcoin sebagai bagian dari diversifikasi portofolio.

Risiko yang Masih Mengintai

Di sisi lain, potensi risiko penurunan harga masih cukup besar. Perkins menyoroti kegagalan infrastruktur sistemik, insiden keamanan siber, dan gejolak geopolitik sebagai ancaman utama. Memburuknya kondisi ekonomi global atau pengetatan moneter susulan juga dapat memicu gelombang likuidasi baru di pasar kripto.

Macellari memperkirakan pasar masih akan diwarnai volatilitas tinggi hingga beberapa bulan ke depan. Meskipun pergerakan harga saat ini diyakini sedang membentuk titik terendah (‘bottoming process’), sentimen pasar secara umum masih tergolong lemah. Belum ada yang bisa memastikan apakah Bitcoin telah menyentuh titik terendahnya dalam siklus ini. Namun, pergerakan pasar saat ini kian bergantung pada kebijakan dari AS, selain data blockchain itu sendiri.

Istilah ‘Crypto Winter’ merujuk pada periode panjang penurunan harga mata uang kripto yang disertai penurunan volume perdagangan dan lesunya sentimen pasar. Fenomena ini bukanlah hal baru dalam dunia aset digital, dengan pola siklus berulang yang dipengaruhi oleh peristiwa ‘Bitcoin Halving’. Namun, memasuki era 2020-an, dinamika pasar kini lebih terintegrasi dengan kondisi makroekonomi global, kebijakan suku bunga bank sentral, hingga lanskap geopolitik dan hukum.