— Harga Bitcoin (BTC) terpantau bertahan di level US$ 64.000 pada perdagangan Rabu (5/8/2026) pagi. Meskipun belum mampu mengikuti reli tajam yang terjadi di pasar saham Wall Street, data on-chain menunjukkan adanya akumulasi aset kripto terbesar di dunia tersebut oleh para investor.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 06.45 WIB, kapitalisasi pasar kripto global mengalami kenaikan sebesar 0,71% menjadi US$ 2,19 triliun dalam 24 jam terakhir. Sementara itu, harga Bitcoin dilaporkan melonjak 1,21% ke level US$ 64.176 per koin, setara dengan sekitar Rp 1,15 miliar dengan asumsi kurs Rp 17.969 per dolar AS.

Indeks CoinDesk 20, yang merefleksikan kinerja 20 aset kripto terbesar, juga mencatat lonjakan signifikan sebesar 1,01%. Ethereum dilaporkan naik 0,77% menjadi US$ 1.870, sementara Binance Coin (BNB) meningkat 0,69% ke angka US$ 592.

Menurut CoinTelegraph, pergerakan Bitcoin saat ini masih terbatas dan berada di bawah rata-rata pergerakan sederhana (SMA) 21 hari. Sentimen positif pasar turut dipicu oleh optimisme mengenai kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz, menyusul kemajuan dalam pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Harapan ini memberikan tekanan pada harga minyak dan mendorong pergerakan aset berisiko.

Di pasar saham, S&P 500 berhasil mencetak rekor baru di level 7.713, dengan kapitalisasi pasar yang untuk pertama kalinya menembus angka US$ 70 triliun. Pelaku pasar juga tengah mencermati prospek kebijakan moneter AS. Data dari FedWatch Tool CME Group menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan September mendatang berada di kisaran 56,7%.

Michael Ball, seorang strategis makro di Bloomberg, menyatakan bahwa minimnya petunjuk dari Ketua The Fed Kevin Warsh akan membuat data ekonomi, harga minyak, dan pasar obligasi memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap ekspektasi arah kebijakan moneter.

Akumulasi Menguat

Di tengah pergerakan harga yang masih terbatas, data dari CryptoQuant mengungkapkan bahwa aktivitas akumulasi Bitcoin tetap menunjukkan kekuatan. Sekitar 0,7% dari total pasokan Bitcoin, atau setara dengan kurang lebih 155.000 BTC, kini dimiliki oleh investor dengan harga beli yang berada di kisaran US$ 62.000 hingga US$ 65.000.

CryptoQuant menginterpretasikan kondisi ini sebagai indikasi bahwa investor sedang memanfaatkan pelemahan harga untuk menambah porsi kepemilikan mereka, alih-alih melakukan aksi jual panik. Secara teknikal, Bitcoin masih bergerak dalam rentang yang sempit. SMA 21 hari menjadi area resistensi jangka pendek yang perlu diperhatikan, sementara SMA 50 hari berperan sebagai level penopang pada grafik intraday.