Detak Media — Perkembangan kawasan kuliner kini tidak lagi sekadar menawarkan variasi menu dan kapasitas restoran. Perubahan gaya hidup masyarakat mendorong munculnya destinasi yang mengintegrasikan makanan, rekreasi, hiburan, dan interaksi sosial dalam satu lokasi.
Owner Bintang Laut PIK, Hero Gozal, menjelaskan bahwa konsep ini dikembangkan berdasarkan perubahan kebutuhan pelanggan. “Pelanggan tetap mencari makanan berkualitas, tetapi kebutuhan mereka berkembang. Mereka juga mencari tempat untuk berkumpul, melakukan aktivitas, bertemu komunitas, dan menghabiskan waktu bersama keluarga atau rekan,” ujar Hero dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/8/2026).
Pendekatan ini menjadi landasan pengembangan Bintang Laut PIK, sebuah destinasi seafood dan hiburan terpadu yang disiapkan di Pantai Kita PIK, Holy District, kawasan PIK 2. Bintang Laut PIK dirancang lebih dari sekadar restoran seafood. Proyek ini akan memadukan restoran, area memancing, kegiatan kompetisi, Play Club, program keanggotaan, ruang komunitas, serta layanan digital untuk reservasi dan penyelenggaraan acara.
Meskipun mengusung konsep hiburan terpadu, restoran tetap menjadi fondasi utama Bintang Laut PIK. Restoran ini dirancang untuk melayani berbagai kebutuhan, mulai dari makan keluarga, pertemuan bisnis, makan bersama kelompok, perayaan, kegiatan komunitas, hingga jamuan peserta acara. Menu seafood dan hidangan kepiting akan menjadi identitas kuliner utamanya.
Konsep restoran ini juga akan mendukung kegiatan lain di dalam kawasan. Pengunjung area pancing dan Play Club, misalnya, dapat memesan makanan tanpa harus berpindah lokasi. Hero menambahkan bahwa integrasi ini diharapkan membuat pengalaman pelanggan menjadi lebih praktis. Dokumen pengembangan Bintang Laut PIK menempatkan restoran sebagai titik pertemuan seluruh pelanggan, sekaligus penghubung antara aktivitas kuliner, rekreasi, dan komunitas.
“Kami ingin setiap fasilitas memiliki hubungan yang jelas. Restoran melayani pengunjung dari seluruh aktivitas, sementara kegiatan pancing dan komunitas memberikan alasan tambahan bagi pelanggan untuk kembali,” terang Hero.
Berada di Kawasan PIK 2
Bintang Laut PIK dikembangkan di unit HD-B1 dan HD-B2, Pantai Kita PIK, Holy District. Area pengembangannya mencapai sekitar 1.892 meter persegi, terdiri atas dua unit dengan luas masing-masing sekitar 946 meter persegi.
Rencana fasilitas yang disiapkan meliputi restoran dengan kapasitas sekitar 400 kursi, area pancing dengan 80 fishing seat, serta Play Club dengan sekitar 30 meja. Venue juga dirancang untuk mengakomodasi acara keluarga, kegiatan komunitas, pertemuan perusahaan, dan kompetisi terjadwal.
Lokasi ini dipilih untuk mendukung konsep destination venue, yaitu tempat yang dikunjungi bukan hanya karena satu produk, tetapi karena kombinasi aktivitas yang tersedia. Berdasarkan rancangan bisnisnya, Bintang Laut PIK dibangun melalui lima pilar utama: Food, Fishing, Play, Community, dan Digital. Setiap bagian dirancang untuk mendukung bagian lainnya, bukan beroperasi sebagai fasilitas yang sepenuhnya terpisah.
Tahap Pengembangan
Bintang Laut PIK saat ini masih dalam tahap pengembangan. Sejumlah fasilitas, jadwal pembukaan, sistem keanggotaan, dan layanan digital masih harus melalui proses penyelesaian teknis serta validasi operasional.
Hero menyatakan bahwa manajemen akan mengumumkan perkembangan proyek secara bertahap melalui kanal resmi. “Kami menyadari bahwa konsep yang luas juga membawa tanggung jawab operasional yang besar. Karena itu, setiap bagian harus disiapkan secara bertahap agar pengalaman pelanggan tetap konsisten,” ujarnya.
Pengelola juga membuka komunikasi dengan mitra dari sektor kuliner, teknologi, komunitas, acara, sponsorship, dan pengembangan bisnis. Namun, pembahasan mengenai struktur pendanaan dan investasi dilakukan secara privat melalui proses kualifikasi dan uji tuntas, bukan melalui materi publik.
Bintang Laut PIK diharapkan menjadi salah satu contoh perubahan model bisnis kuliner, dari tempat makan menjadi destinasi yang menggabungkan makanan, aktivitas, dan komunitas. Keberhasilannya pada akhirnya akan ditentukan bukan oleh banyaknya fasilitas yang tersedia, melainkan oleh kemampuan pengelola membuat setiap fasilitas tersebut relevan, aman, dan benar-benar digunakan oleh pelanggan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.