— Permintaan emas yang kuat dari bank-bank sentral global dinilai menjadi pendukung utama harga emas yang terus bertahan di level US$ 4.000 per troy ounce. Laporan terbaru dari World Gold Council menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pembelian emas oleh bank sentral.

Selama kuartal kedua 2026, bank-bank sentral global tercatat melakukan pembelian emas bersih sebanyak 289 ton. Angka ini menandai peningkatan tajam dibandingkan kuartal pertama tahun yang sama, yang hanya mencatat 56,5 ton.

Analis di Standard Chartered, Suki Cooper, yang menjabat sebagai Kepala Riset Komoditas Global, menyatakan bahwa data terbaru ini tidak seharusnya dilihat sebagai sinyal negatif untuk prospek jangka panjang. “Poin pentingnya adalah pembelian oleh bank sentral kembali meningkat pada kuartal kedua tahun 2026 ke level tertinggi sejak kuartal pertama tahun 2024,” tulis Cooper seperti dikutip dari Kitco News.

Cooper menambahkan, “Kami telah mencatat bahwa peningkatan arus dua arah, di mana penjualan emas oleh bank sentral dan peningkatan produksi tambang jauh lebih sehat untuk tren harga emas dalam jangka panjang daripada lonjakan permintaan ritel.”

Laporan World Gold Council (WGC) juga mengindikasikan bahwa bank sentral terus menjadi salah satu sumber permintaan emas terbesar pada kuartal kedua 2026, bahkan melampaui konsumsi perhiasan global. Permintaan emas perhiasan mengalami penurunan 17% secara tahunan menjadi 278 ton, mencapai level kuartalan terlemah sejak pandemi. Sebaliknya, pembelian oleh sektor resmi naik 62% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Cooper menegaskan kembali pandangannya bahwa bank sentral cenderung melihat pelemahan harga emas sebagai peluang untuk menambah kepemilikan, bukan untuk mengurangi eksposur. “Peningkatan pembelian yang dilaporkan baru-baru ini, ditambah dengan survei bank sentral baru-baru ini, menunjukkan bahwa penurunan harga kemungkinan masih akan dilihat sebagai peluang pembelian,” kata Cooper.

Lebih lanjut, ia menyatakan, “Manajer cadangan terus melihat emas sebagai diversifikasi jangka panjang daripada perdagangan jangka pendek.”

Meskipun permintaan dari bank sentral tetap menjadi faktor pendorong utama harga emas, Cooper memprediksi permintaan investasi pada logam mulia ini akan terus melemah. Hal ini disebabkan oleh imbal hasil riil yang diprediksi tetap tinggi. “Fokus emas telah bergeser ke hambatan makro jangka pendek, dengan korelasi bergulir tiga bulan dengan imbal hasil riil lima tahun semakin dalam menjadi -39%, dan menjadi -47% dengan imbal hasil nominal lima tahun. Demikian pula, korelasi emas dengan USD tetap signifikan di -55%, sementara korelasinya dengan minyak berada di -29%,” paparnya.