Detak Media — Nilai tukar rupiah diprediksi masih akan berada dalam tekanan dan berpotensi melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026. Penguatan tipis yang diraih pada Kamis sore (6/8/2026) sebesar 10 poin ke level Rp 17.923 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp 17.933, diperkirakan tidak akan bertahan lama.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif dengan rentang pelemahan di antara Rp 17.920 hingga Rp 17.970 per dolar AS untuk perdagangan hari ini. Ia menjelaskan bahwa rupiah masih rentan terhadap berbagai sentimen dari pasar global.
Sentimen eksternal yang sempat membaik setelah Iran dan Oman sepakat mengenai lalu lintas di Selat Hormuz, yang meredakan kekhawatiran kenaikan inflasi akibat lonjakan harga minyak, juga memicu penurunan ekspektasi pengetatan kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Namun, para pelaku pasar tetap berhati-hati.
“Kesepakatan tersebut belum berarti pembukaan kembali selat secara penuh. Negosiasi mengenai biaya kargo, inspeksi, dan pengaturan keamanan yang lebih luas masih belum terselesaikan,” ujar Ibrahim, Kamis (6/8/2026).
Fokus investor global saat ini tertuju pada data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang akan segera dirilis. Data ini diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada bulan September sebesar 55%, menurun dari 67% dua hari sebelumnya.
Di sisi domestik, rupiah juga menghadapi tekanan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua 2026 hanya mencapai 5,29% secara tahunan (year-on-year). Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal pertama 2026.
Selain itu, Ibrahim menambahkan bahwa pengumuman hasil peninjauan indeks kuartalan oleh MSCI pada 13 Agustus 2026 waktu Indonesia, yang akan berlaku efektif pada 31 Agustus 2026, juga berpotensi menjadi sentimen yang membayangi pergerakan pasar. “Arah kebijakan penyedia indeks global masih sulit diprediksi,” katanya.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.