— JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 akan tetap berada di atas angka 5%. Proyeksi optimis ini didasarkan pada dorongan investasi dan berbagai insentif yang telah disiapkan pemerintah. Belanja negara dan investasi diperkirakan akan menjadi motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi pada semester II-2026.

“Masih di atas 5% dan didorong oleh investasi dan beberapa insentif yang didorong oleh pemerintah,” ujar Airlangga kepada awak media di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rabu (29/7/2026).

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai 5,61% secara tahunan. Pada periode tersebut, produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp 6.187,2 triliun, sementara PDB atas dasar harga konstan mencapai Rp 3.447,7 triliun.

Lebih lanjut, Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah akan terus mengoptimalkan belanja negara dan investasi sebagai komponen kunci penggerak pertumbuhan ekonomi, baik pada triwulan III maupun triwulan IV. Kedua elemen ini memiliki kontribusi yang signifikan terhadap aktivitas ekonomi nasional.

“Pada kuartal ketiga dan keempat tentu yang didorong adalah belanja pemerintah dan investasi,” kata Airlangga.

Hingga pertengahan tahun ini, realisasi belanja negara telah mencapai Rp 1.656 triliun, yang setara dengan 43,1% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 3.842,7 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, realisasi belanja negara menunjukkan pertumbuhan sebesar 17,8% secara tahunan. Dari total realisasi tersebut, belanja pemerintah pusat mencapai Rp 1.298,6 triliun, sementara dana transfer ke daerah terealisasi sebesar Rp 357,4 triliun.

Selain belanja pemerintah, sektor investasi juga terus menunjukkan tren yang positif. Realisasi investasi sepanjang semester I-2026 tercatat sebesar Rp 1.010,6 triliun, yang berarti meningkat 7,2% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Airlangga menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk terus mempercepat penyelesaian berbagai hambatan yang dihadapi dalam proses investasi melalui Satuan Tugas Debottlenecking. Menurutnya, minat investor untuk menanamkan modal di Indonesia masih tergolong tinggi, namun terdapat sejumlah kendala, terutama terkait perizinan, yang perlu segera diselesaikan.

“Sebetulnya minat untuk investasi relatif tinggi tetapi mereka minta ada beberapa hal yang terkait dengan debottlenecking, termasuk di antaranya terkait dengan perizinan,” tutur Airlangga.

Angka resmi mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk periode triwulan II-2026 rencananya akan disampaikan secara resmi oleh BPS pada Rabu, 5 Agustus 2026. Bersamaan dengan pengumuman tersebut, BPS juga akan merilis data-data baru terkait prospek bisnis manufaktur, kondisi ketenagakerjaan, profil kemiskinan, serta tingkat ketimpangan penduduk di Indonesia.