— Militer China mengonfirmasi pengembangan sistem kecerdasan buatan (AI) terbaru yang dirancang khusus untuk merencanakan dan mengoordinasikan serangan udara secara otomatis dan akurat. Laporan ini pertama kali dipublikasikan oleh South China Morning Post.

Sistem AI canggih ini dikembangkan untuk mensimulasikan serta mengelola latihan militer berskala besar yang melibatkan puluhan unit armada tempur dan ratusan target sasaran sekaligus. Teknologi ini bertindak sebagai asisten pintar yang membantu para komandan merumuskan rencana operasi tempur di lapangan secara cepat.

Langkah strategis ini menandai percepatan ambisi Beijing dalam mengintegrasikan teknologi AI ke dalam doktrin serta operasi tempur Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA).

Meningkatkan Akurasi dan Efisiensi Medan Perang

Analis militer Zhang Junshe mengungkapkan bahwa peran AI sangat vital dalam mempercepat proses pengambilan keputusan taktis yang sering kali membutuhkan respons hitungan detik. Menurut Zhang, sistem AI tersebut memiliki kemampuan untuk kalkulasi dinamis, yaitu menghitung perkembangan situasi medan perang secara real-time sekaligus menentukan sasaran paling optimal bagi berbagai jenis persenjataan yang dikerahkan.

“Sistem AI ini juga membantu menentukan momentum paling tepat dalam penggunaan amunisi. Hal ini tidak hanya meningkatkan akurasi serangan secara signifikan, tetapi juga mencegah pemborosan amunisi dan sumber daya selama operasi tempur berlangsung,” jelas Zhang.

Pengembangan ini mempertegas posisi China dalam perlombaan modernisasi militer berbasis AI (algorithmic warfare) di tingkat global. Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam sektor pertahanan telah menjadi medan persaingan baru antara negara-negara kekuatan utama dunia, khususnya China dan Amerika Serikat.

Pihak berwenang China melalui doktrin intelligentized warfare berambisi mengubah PLA dari militer tradisional menjadi kekuatan tempur berbasis data dan kecerdasan buatan pada 2027. Pengintegrasian AI ke dalam taktik perang udara memungkinkan pemrosesan ribuan data dari radar, satelit, dan drone secara instan.

Meski meningkatkan kecepatan serangan dan efisiensi logistik, dominasi AI dalam pengambilan keputusan militer juga memicu debat global terkait etika keselamatan, risiko salah kalkulasi, serta potensi ketergantungan penuh manusia pada algoritma dalam situasi krisis.