— Indeks-indeks saham Wall Street ditutup naik tajam pada perdagangan Senin (3/8/2026) waktu setempat. Reli ini dipimpin oleh saham-saham teknologi berkapitalisasi besar (Big Tech) setelah harga minyak dunia anjlok. Penurunan harga minyak terjadi menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran.

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 693,38 poin (1,32%) ke rekor penutupan baru di 53.178,41. Sementara itu, S&P 500 naik 1,48% menjadi 7.600,50, hanya sekitar 0,3% di bawah rekor tertingginya yang dicapai pada awal Juni. Adapun Nasdaq Composite melesat 2,13% ke 25.913,90.

Sektor teknologi dan layanan komunikasi menjadi motor utama penguatan Wall Street. Saham Meta Platforms melonjak sekitar 6%, sedangkan Amazon naik lebih dari 4%, sekaligus mencatat kapitalisasi pasar US$ 3 triliun dan rekor harga penutupan baru. Saham Nvidia menguat hampir 3%, sementara Alphabet dan Microsoft masing-masing naik hampir 5%.

Kenaikan ini menjadi pembalikan arah setelah sektor teknologi mengalami tekanan sepanjang Juli. ETF Technology Select Sector SPDR sempat merosot hampir 8% bulan lalu karena investor mengkhawatirkan besarnya belanja modal perusahaan untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI). Namun, laporan kinerja emiten yang lebih baik dari perkiraan kembali memicu optimisme.

Manajer portofolio Argent Capital Management Jed Ellerbroek menilai, pasar mulai percaya bahwa investasi besar perusahaan teknologi dalam infrastruktur AI akan menghasilkan imbal hasil yang menarik. Menurutnya, permintaan terhadap komputasi berakselerasi dan pusat data masih jauh melampaui pasokan, sehingga prospek pertumbuhan perusahaan semikonduktor dan penyedia layanan komputasi awan tetap kuat.

Selain reli saham teknologi, sentimen positif juga datang dari anjloknya harga minyak dunia. Harga Brent turun 4,73% menjadi US$ 83,77 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) merosot 5,11% ke US$ 80,34 per barel. Penurunan terjadi setelah Trump memutuskan membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan menyatakan pembicaraan antara kedua negara akan kembali dilanjutkan.

Langkah tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Meredanya risiko geopolitik juga membantu mengurangi tekanan terhadap saham-saham yang berkaitan dengan AI. Partner dan manajer portofolio Founder ETFs Michael Monaghan mengatakan kekhawatiran investor terhadap konflik Timur Tengah mulai mereda sehingga minat terhadap aset berisiko kembali meningkat.

Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury atau obligasi AS tenor 10 tahun turun hampir 6 basis poin menjadi sekitar 4,688%, mencerminkan berkurangnya kekhawatiran terhadap inflasi. Meski demikian, pendiri Vital Knowledge Adam Crisafulli mengingatkan, investor tetap perlu berhati-hati karena konflik di Timur Tengah masih berpotensi kembali memanas sehingga reli pasar belum tentu berlangsung mulus.