— JAKARTA – Di tengah maraknya konten media sosial yang menampilkan keuntungan fantastis dari aktivitas trading, trader sekaligus edukator pasar finansial Jafar Tri Maulana, yang dikenal dengan nama Japsku, menyampaikan pesan yang berbeda. Ia berpandangan bahwa trading sebaiknya diposisikan sebagai salah satu instrumen dalam membangun kekayaan, bukan satu-satunya sumber penghasilan.

Jafar mendorong masyarakat untuk memiliki usaha atau pekerjaan lain yang mampu menghasilkan arus kas. Keuntungan dari usaha tersebut kemudian dapat digunakan sebagai modal investasi secara bertahap sesuai kemampuan. “Dengan pendekatan seperti itu, tekanan psikologis saat melakukan trading juga akan jauh berkurang karena seseorang tidak menggantungkan seluruh kebutuhan hidupnya pada pergerakan pasar,” kata Jafar dalam pernyataannya, di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan dalam dunia trading tidak dapat dipisahkan dari proses belajar yang panjang. Jafar berharap masyarakat tidak lagi memandang trading sebagai jalan pintas menuju kebebasan finansial, melainkan sebagai profesi yang membutuhkan ilmu, pengalaman, kedisiplinan, dan kesiapan mental. “Beradab dan ilmu. Karena adab yang baik jika dipadukan dengan ilmu yang baik maka hidup akan menjadi lebih baik. Rencanakan, lakukan, dan optimalkan,” ujar Jafar.

Menurutnya, trading bukanlah cara instan untuk menjadi kaya, melainkan profesi yang menuntut kesiapan mental, disiplin, dan pola pikir layaknya seorang pengusaha. Pandangan ini lahir dari pengalamannya sejak mengenal dunia trading pada 2017. Selama bertahun-tahun, ia merasakan berbagai fase, mulai dari keuntungan, kerugian, hingga tekanan psikologis yang membentuk cara pandangnya terhadap profesi trader.

“Mereka yang baru terjun di dunia trading, khususnya forex maupun crypto, harus memiliki mindset pengusaha terlebih dahulu. Jangan pernah menganggap trader itu pekerjaan yang mudah. Proses menjadi seorang trader sangat susah dan banyak lika-likunya,” kata Jafar. Ia menambahkan, salah satu kesalahan terbesar pemula adalah melihat trading hanya dari sisi keuntungan.

Banyak orang tertarik karena tergiur cerita sukses atau unggahan profit besar di media sosial, tanpa memahami proses panjang yang harus dilalui sebelum memperoleh hasil secara konsisten. Jafar menilai profesi trader justru termasuk pekerjaan yang tidak mudah dijalani. Selain membutuhkan pemahaman pasar, trader dituntut memiliki kondisi psikologis yang stabil agar mampu mengambil keputusan rasional di tengah fluktuasi harga.

Ia mengibaratkan perjalanan seorang trader seperti pertumbuhan sebuah pohon. Pohon besar tidak tumbuh dalam semalam, melainkan melalui proses panjang sejak menjadi bibit hingga akhirnya berdiri kukuh. Hal yang sama berlaku dalam dunia trading. “Profesi trader ini seperti usaha yang harus melewati lika-likunya juga. Terkadang untung, terkadang rugi. Siklus ini terus berulang. Mental, psikologi, dan pikiran yang tenang akan mengubah semuanya. Tidak ada usaha yang tidak pernah mengalami kerugian,” jelas pemilik akun Instagram @japsku.

Melawan Narasi Profit Instan

Fenomena pamer keuntungan di media sosial menjadi perhatian Jafar. Di saat banyak kreator konten berlomba memperlihatkan hasil trading dalam jumlah besar, ia memilih mengambil posisi berbeda. Baginya, keuntungan besar yang ditampilkan seseorang tidak selalu mencerminkan proses sebenarnya. Bahkan, keuntungan yang diperoleh secara instan belum tentu mampu dipertahankan dalam jangka panjang.

“Saya ingin tampil berbeda. Silakan saja orang memamerkan profit, tetapi jangan sampai masyarakat menganggap itu didapat secara instan. Tidak ada profit instan dalam trading,” kata Jafar, yang juga pemilik akun TikTok @japsku.com. Ia mengibaratkan konsep tersebut seperti mi instan yang tetap harus melalui proses sebelum bisa dinikmati. Dalam dunia trading, keuntungan besar juga membutuhkan persiapan, pengalaman, serta pengendalian risiko yang matang.

Ia mengingatkan bahwa tidak sedikit konten yang hanya menampilkan sisi keberhasilan tanpa memperlihatkan risiko maupun kerugian yang pernah dialami. Kondisi itu berpotensi menciptakan ekspektasi keliru, terutama bagi masyarakat yang baru mulai belajar trading. Karena itu, ia mengaku hanya memperlihatkan hasil trading ketika memang diminta sebagai bagian dari pembuktian, bukan untuk menarik perhatian publik.

“Tujuan saya bukan sekadar pamer. Banyak orang menunjukkan profit, tetapi tidak bisa membuktikan bahwa itu benar-benar hasil trading. Akibatnya, pemula mudah terjebak pada kepalsuan dan menganggap trading itu selalu mudah,” beber Jafar.

Psikologi Lebih Penting dari Strategi

Di balik berbagai metode analisis yang berkembang, Jafar menilai faktor terbesar yang menentukan keberhasilan seorang trader justru berasal dari diri sendiri. Banyak trader sebenarnya telah memiliki strategi yang cukup baik, namun gagal menjaga konsistensi karena tidak mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi kerugian ataupun keuntungan.

Ia menilai kerugian merupakan bagian alami dari aktivitas trading. Karena itu, seseorang tidak boleh langsung menyalahkan diri sendiri setiap kali mengalami loss. “Jangan ganti strateginya, tetapi ganti pola pikirnya. Rata-rata trader gagal bukan karena strateginya, melainkan karena ingin cepat kaya dan serba instan,” kata dia.

Selain memperbaiki pola pikir, Jafar menekankan pentingnya disiplin menjalankan manajemen risiko serta melakukan evaluasi berkala terhadap seluruh aktivitas trading. Menurutnya, trader perlu memiliki jurnal yang mencatat seluruh transaksi, baik saat memperoleh keuntungan maupun mengalami kerugian. Catatan tersebut menjadi dasar untuk mengevaluasi kesalahan sekaligus meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di masa mendatang.